Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH
HomeAbout MeNov 2, 2004

Latest from Plurk.com

inco ketika semua orang pada nge-Tweet, apa kabar Plurk? - View responses now

Kudatang,
meradang, dan menang...



















































CO.CC:Free Domain' /

Blog EntryAug 8, '10 9:35 AM
for everyone

Membaca tulisan dari Widianto H Didiet tentang sterilisasi busway, membuat saya tergelitik untuk menulis hal yang sama dari sudut pandang saya. Mungkin saya orang yang sangat menyambut baik sterilisasi busway tersebut dan merasa senang karena akhirnya doa saya dikabulkan. Sudah sejak lama saya gerah dengan masuknya kendaraan lain ke lajur busway, mulai dari motor, mobil pribadi, angkutan umum sampai mobil dinas menteri.

Dari semua koridor busway yang ada, lajur di Jl. Sudirman menurut saya paling sukses melakukan sterilisasi tersebut. Bahkan sejak dari awal ada, lajur itu nyaris tidak pernah dimasuki kendaraan lain, meskipun jam operasional busway telah lewat. Bandingkan dengan koridor lain yang semua kendaraan berebut masuk ke "lajur eksklusif" tersebut.

Busway memang dikeluhkan oleh para pengendara kendaraan pribadi menjadi biang kemacetan di Jakarta dengan memakai sebagian dari lajur mereka. Padahal, tujuan utama dari busway adalah mengkonversi pengguna kendaraan pribadi untuk naik busway itu sendiri. Alih-alih naik busway, pengendara pribadi malah memilih masuk ke lajur busway dengan kendaraan pribadinya sendiri.

Mari kita berandai-andai... Menurut data dari Dinas Perhubungan DKI jumlah mobil di Jakarta mencapai 2,2 juta unit sedangkan motor 3,5 juta unit. Kendaraan umum mencapai 860 ribu unit mungkin itu telah termasuk unit TransJakarta. Andai saja setengah dari pengendara mobil dapat dikonversikan menggunakan kendaraan umum dan jumlah kendaraan umum ditambah menjadi 1,5 juta unit, maka kemacetan dapat berkurang. Berkumpulnya para pekerja Jakarta di titik-titik tertentu memang masih akan menimbulkan kemacetan, tapi paling tidak akan bisa dikurangi.

Masalahnya ialah adakah kemauan dari pengendara mobil untuk kemudian pindah ke angkutan umum? Masalah kemacetan bukan hanya masalah Pemprov DKI, tapi perlu semua elemen masyarakat untuk membantu menyelesaikannya. Bagaimana bisa kita mengeluh macet (di antara banyak pengendara mobil lainnya) sedang kita tak ada usaha apa-apa dan merupakan bagian dari masalah itu sendiri? Pengendara mobil di Jakarta pun tak lepas dari dosa-dosanya tersendiri seperti yang pernah saya tulis sebelumnya.

Kembali ke masalah sterilisasi lajur busway, benarkah hanya alasan macet sehingga para pengendara mobil di Jakarta nekat menerobos lajur tersebut? Mari kita perhatikan bersama, nanti saat libur Idul Fitri tiba dan jalanan legang, masih saja ada pengendara mobil yang masuk lajur busway. Masalahnya adalah kedisiplinan berlalu-lintas dan kurangnya rasa berbagi untuk sesama pengguna jalan. Menyalahkan supir pribadi? Ah, sebagai majikan harusnya bisa dong memberi tahu supirnya. Bukankah biasanya seorang majikan lebih berpendidikan dari sang supir?

Intinya ketika pengendara mobil menjadi bagian dari kemacetan Jakarta, carilah solusi yang bukan solusi instan seperti masuk lajur busway. Jakarta tak akan pernah berubah kalau pribadi-pribadi masyarakatnya juga tak mau berubah dan mau enaknya sendiri! Di satu sisi, Pemprov DKI juga harus membenahi fasilitas angkutan umum di Jakarta. Infrastruktur Koridor 9 dan 10 yang telah selesai sejak tahun 2008 malah menjadi suatu hal yang mubazir. Halte dan lajur menjadi rusak karena tidak terpakai. Juga realisasi dari monorel harus segera diwujudkan. Apa harus tiang pancang yang sudah dibangun sepanjang Senayan dan Kuningan saat ini hanya menjadi monumen kegagalan Pemprov DKI dalam menangani kemacetan Jakarta?

Kemacetan Jakarta merupakan masalah yang sangat kompleks dan membutuhkan dukungan semua lapisan masyarakat untuk dapat menyelesaikannya. Jangan cuma enak-enakan duduk diam dalam mobil dingin berAC lalu berharap mukjizat datang untuk membuat Jakarta bebas macet. Selama masyarakat juga tak peduli dan membantu, maka kemacetan akan menjadi kutukan seumur hidup buat Jakarta!

 


Blog EntryAug 1, '10 12:30 PM
for everyone

Wacana perpindahan ibukota dalam rangka mengatasi kemacetan di Jakarta sepertinya bukan barang baru. Sekali lagi, dalam masalah kemacetan Jakarta, pemerintah (lagi-lagi) disalahkan oleh masyarakat. Padahal jika saja wacana ini diwujudkan, tentu yang mengalah mesti ‘angkat kaki’ dari Jakarta adalah pemerintah, dalam hal ini tentunya pemerintah pusat. Hal ini juga menjadi tamparan tersendiri untuk pemerintah daerah karena mengindikasikan kegagalannya dalam mengatasi kemacetan Jakarta.

Walau masih banyak yang harus dibenahi di sana-sini, sebenarnya pemerintah telah memberikan beberapa solusi untuk kemacetan di Jakarta. Sebut saja TransJakarta dan Kereta Rel Listrik Commuter Jabodetabek yang setiap harinya mengangkut pulang pergi pekerja yang tinggal di sekeliling Jakarta. Sayangnya kebijakan transportasi massal tersebut tidak diikuti dengan pemeliharaan infra-struktur yang baik. Sebut saja TransJakarta Koridor 9 dan 10 yang telah selesai pembuatan jalur dan haltenya namun busnya tak kunjung beroperasi. Juga pemeliharaan KRL yang awalnya nyaman namun secara pelan-pelan menjadi tak terawat.

Namun tulisan saya kali ini bukanlah mengomentari kebijakan-kebijakan pemerintah tersebut. Kali ini saya akan melihat pada sisi kendaraan pribadi khususnya mobil yang sebenarnya merupakan bagian dari masalah kemacatan Jakarta. Menurut MetroTV, setiap harinya beredar 240 mobil baru di jalanan, ditambah lagi sekitar 870 sepeda motor baru yang beredar setiap harinya. Sedang pertumbuhan jalan cuma 0,01% saja. Jika ini dibiarkan, diperkirakan Jakarta akan mengalami kelumpuhan lalu lintas pada tahun 2014.

Nah, jika dilihat setiap harinya Jakarta selalu penuh dengan mobil, mulai dari yang seri terbaru sampai yang terbilang kuno. Di bawah ini saya akan menuliskan ‘dosa-dosa’ dari pengendara mobil di Jakarta yang sering kali tak disadari atau bahkan dianggap biasa oleh mereka. Ironisnya, para pengendara mobil ini selalu menuntut haknya sebagai warna negara dengan solusi-solusi kebijakan dari pemerintah. Padahal jika saja mereka mau lebih jujur, mereka bisa menjadi solusi dari masalah mereka sendiri. Inilah ‘dosa-dosa’ tersebut:

 

1.      Menggunakan BBM bersubsidi.

Mobil-mobil keluaran terbaru masih saja asyik-asyik mengantri BBM bersubsidi di SPBU. Pemandangan ini kita bisa saksikan setiap harinya di setiap wilayah di Jakarta. Mulai dari daerah pinggiran sampai pusat kota. Padahal harusnya subsidi lebih tepat untuk angkutan umum massal. Dengan ‘murah’-nya BBM ini, maka siapapun akan lebih senang naik mobil sendiri yang nyaman ber-AC alih-alih berdesak-desakan naik kendaraan umum. Toh, bagi mereka BBM masih terbeli...

 

2.      Menggunakan jasa joki 3in1.

Setiap pagi dan sore kita melihat para joki 3in1 berjejer di jalan-jalan menuju kawasan 3in1. Bahkan mereka sering kali mengambil satu lajur tersendiri, berdiri di tengah-tengah jalan untuk bersaing dengan sesama mereka. Dengan membayar Rp10-20 ribu (tergantung jarak & nego), para pengendara mobil bisa menggunakan jasa mereka untuk melewati kawasan 3in1 di Jakarta. Jika dilihat setiap hari, selalu ada saja yang menggunakan jasa para joki ini. Bahkan banyak dari para joki yang membawa anak kecil atau bayi untuk mendapatkan bayaran dobel. Kenapa joki ini semakin banyak dan semakin mengganggu pemakai jalan lainnya? Sesuai dengan hukum supply & demand, jika tidak ada yang menggunakan jasa mereka tentu lama-kelamaan mereka juga akan tidak ada. Padahal kebijakan 3in1 pada awalnya merupakan salah satu solusi dari pemerintah untuk mengatasi kemacetan Jakarta. Masyarakat banyak yang mengkritik bahwa kebijakan ini hanya memindahkan kemacetan saja dari kawasan 3in1 keluar kawasan tersebut. Jika memang dengan uang Rp10-20 ribu saja jalanan sudah bisa ‘dibeli’ apa lagi gunanya kebijakan ini?

 

3.      Masuk ke lajur busway.

Bicara tentang ketidakdisiplinan, masyarakat Jakarta mungkin juaranya. Bukan hanya masyarakat biasa yang nekat menerobos lajur busway, bahkan para pejabat dan menterinya pun ikut-ikutan. Saya mengamati ketika hari libur yang tidak macet pun, masih banyak kendaraan pribadi yang masuk ke lajur busway. Jadi buat saya alasan menghindari macet itu non-sense. Para pelanggar itu lebih ke mau enak sendirinya saja, mau serba instan! Di mana Polisi? Ah, lupakan polisi yang mungkin juga malas ikut-ikutan macet dan lebih baik ngadem di posnya. Padahal pada awalnya, keunggulan TransJakarta adalah karena lajur khususnya tersebut. Yang mampu menerobos, di tengah-tengah rimba kemacetan Jakarta. Alih-alih menggunakan TransJakarta, pengendara mobil malah masuk lajur khusus tersebut dengan mobil pribadinya...

 

4.      Menggunakan mobil-mobil tua.

Di Jakarta mobil-mobil terbaru sampai mobil berumur 30 tahun dengan bebas melenggang di mana pun, bahkan di jalan protokol. Mesti bisa dibedakan antara mobil antik dengan mobil tua. Mobil antik itu menjadi koleksi dan hanya dipakai jika ada event tertentu saja. Sedang di Jakarta lebih tepat disebut mobil tua karena dipakai untuk kebutuhan transportasi sehari-hari. Mobil tua di Jakarta ini beragam jenisnya, mulai dari sedan sampai pick-up pengangkut sayuran. Belum lagi jika ditambahkan angkutan umum macam Kopaja, Metro Mini dan angkot. Jika dilihat, banyak mobil tua ini yang sudah tidak layak jalan. Selain tidak nyaman juga membahayakan keselamatan penumpangnya. Di Jakarta, ajaibnya keselamatan sering kali diabaikan. Selain itu, mobil tua juga lebih boros secara bahan bakar dengan polusi yang ditimbulkannya. Mungkin idealnya, mobil yang ada di Jakarta tidak berumur lebih dari 10 tahun. Bisakah?

 

5.      Menggunakan alat komunikasi saat mengemudi

Mungkin hal ini dianggap sepele. Tapi dengan semakin maraknya kecelakaan lalu-lintas yang diakibatkan karena penggunaan alat komunikasi saat mengemudi mungkin masalah ini jadi semakin membesar. Apalagi media-media baru seperti Blackberry dan Twitter semakin banyak digunakan oleh masyarakat Jakarta. Kalau dilihat ada kemiripan dengan para pengendara sepeda motor. Yang naik motor SMS-an pakai Esia, yang naik mobil BBM-an atau Twitter-an pakai Blackberry. Padahal pemerintah juga telah membuat UU tentang hal ini, tapi ya lagi-lagi tetap saja dilanggar. Selain berisiko terjadinya kecelakaan lalu-lintas, penggunaan alat komunikasi saat mengemudi juga membuat bertambahnya kemacetan. Liat saja banyak mobil yang saat jalan kosong, jalan di tengah-tengah, kanan kiri goyang-goyang. Ternyata pengemudinya sedang asyik BBM-an. Ah, kiranya kemajuan teknologi malah membuat dampak yang buruk. Saya merindukan saat HP masih menjadi barang eksklusif dan mahal harganya...

 

            Mungkin akan banyak yang bertanya kepada saya, “lho, kok cuma mobil aja? Motor nggak?” Wah, kalo harus nulis tentang motor juga, mungkin bukan cuma jadi artikel. Tapi bisa-bisa jadi novel bersambung J

            Yang pasti tulisan ini tidak akan membuat Jakarta berkurang macetnya. Namun tulisan ini merupakan otokritik terhadap diri sendiri yang saat ini dan mungkin orang-orang sekitar saya. Di mana sekarang ini, dengan semakin mudahnya proses leasing untuk kredit sebuah mobil, membuat begitu banyak orang-orang yang berpenghasilan biasa-biasa saja tapi sudah bisa memiliki mobil. Belum lagi industri otomotif yang begitu kompetitif dan selalu dengan target-target muluk yang membuat para penjualnya berlomba-lomba untuk memenuhi target tersebut. Ah, baiknya saya tidur lagi dan bermimpi, semoga Jakarta menjadi kota yang ramah lingkungan dan tidak macet lagi seperti saat ini...


Blog EntryAug 1, '10 8:36 AM
for everyone
Ucap syukur dan terima kasih kepada Allah Bapa dan Bunda Maria di surga atas terkabulnya Novena Tiga Salam Maria.

Sebab kasih karuniaNya selalu menyertai kami sepanjang masa...

amin...

          

Pada Hari Minggu 30 Mei 2010 lalu, Komunitas Maria Bunda Pewarta dan Sie Kerasulan Kitab Suci Paroki St. Yoseph Matraman menyelenggarakan sebuah seminar sehari tentang Peran dan Kedudukan Bunda Maria dari 3 sudut pandang agama-agama semitik yaitu Katolik, Protestan dan Islam. Acara dilaksanakan di Aula Besar Gereja Katedral Jakarta mulai pukul 9.30 pagi dan diakhiri oleh Misa Kudus pukul 15.00 WIB. Acara ini terbilang sukses dari sisi partisipasi karena pada awalnya direncanakan cuma untuk 500 peserta saja namun yang datang pada hari H lebih dari 500 orang.

          Acara dibuka oleh moderator yaitu Mas Arswendo Atmowiloto dengan gaya bertuturnya yang khas dan penuh humor sehingga peserta menjadi tertarik untuk mengikuti acara ini. Nara sumber seminar ini adalah Romo Pidyarto Gunawan mewakili Katolik, Pendeta Yerry Tawalujan dan Bapak Bunyamin Sutandhi mewakili Protestan serta KH Jalaluddin Rakhmat mewakili Islam Syiah. Pada saat acara dimulai, KH Jalaludding RakhmatKang Jalal begitu sapaannya, terlambat datang dan baru tiba sekitar 15 menit setelah acara dimulai.

          Pembicara pertama adalah Bapak Bunyamin Sutandhi, seorang pria berumur 69 tahun yang merupakan seorang penginjil. Beliau mengatakan bahwa Maria adalah penggenapan nubuat dari Nabi Yesaya. Bahwa semua nubuat dalam Al Kitab telah digenapi oleh Allah kecuali bahwa Yesus datang lagi ke dunia untuk kedua kalinya pada akhir zaman untuk menjadi hakim bagi semua orang.

          Kang Jalal menjadi pembicara kedua dalam acara tersebut. Kang Jalal memulai materinya dengan mengatakan bahwa satu-satunya surat dalam Al Quran yang diberi judul dengan nama perempuan adalah Surah Maryam. Surah ini termasuk surah Makkiyah karena turun di Mekkah pada awal-awal tahun kenabian Muhammad SAW. Kang Jalal juga menceritakan sebuah kitab hadits tentang bagaimana keponakan Nabi―Ja’far bin Abi Thalib yang melakukan pelarian ke negri Habsyi (Ethiopia) yang memeluk agama Nasrani untuk meminta suaka politik karena mereka dikejar-kejar dan dimusuhi oleh orang-orang Quraisy di Mekkah.

Bahkan mereka mengutus 2 orang diplomat ulung kaum Quraisy yaitu Amr bin Ash dan Abdullah bin Rabiah kepada Raja Habsyi yaitu Najasyi untuk meminta Ja’far dikembalikan/ekstradisi ke Mekkah. Mereka memfitnah Ja’far dan rombongannya adalah para penjahat yang melarikan diri karena telah keluar dari agama nenek moyang kaum Quraisy dan tidak juga masuk ke dalam agama Nasrani yang dianut negeri Habsyi.

Namun permintaan ekstradisi itu ditolak manakala Ja’far membacakan Surah Maryam 1-4 yang membuat Raja Najasyi menangis hingga membasahi jenggotnya. Najasyi mengatakan bahwa agama yang dibawa nabinya Ja’far dan agama yang dibawa oleh Isa Al Masih berasal dari satu sumber. Akhirnya Ja’far bin Abi Thalib beserta istri dan rombongan dapat tinggal dengan aman dan tenang dalam perlindungan Najasyi selama sepuluh tahun. Mereka juga diberikan kebebasan melaksakan ibadah mereka tanpa ada gangguan dan paksaan dari orang lain.

Kang Jalal menyambung dengan mengatakan bahwa Maryam disebut 34 kali dalam Al Quran, lebih banyak dari Maria disebutkan dalam Alkitab. Maryam juga termasuk dalam empat penghulu perempuan di seluruh alam yaitu Maryam, Asiyah bint Mazahim, Khadijah serta Fatimah bint Muhammad SAW. Kang Jalal juga mengatakan bahwa Allah telah memilih Maryam di antara perempuan-perempuan lain seperti yang tertulis pada Ali Imran 42.

Dalam sesi tanya jawab Kang Jalal juga menceritakan beberapa paralelisme tradisi Islam Syiah dengan tradisi Katolik seperti pemilihan Kalifah langsung oleh Nabi Muhammad SAW seperti ketika Yesus memilih Petrus sebagai penerusnya secara langsung untuk melanjutkan kepemimpinannya. Kang Jalal juga menceritakan bahwa pada Islam Syiah juga ada tradisi berdoa melalui perantara orang-orang suci dan di Mesir, mereka berdoa di tempat yang sama dengan umat Kristen Orthodox Koptik yang berdoa di depan patung Bunda Maria.

          Berikutnya, Pendeta Yerry Tawalujan tampil sebagai pembicara ketiga.  Sebelum membahas topik seminar, Pendeta Yerry menekan 4 hal yang diharapkan dapat menjadi pegangan bersama para peserta seminar yaitu:

-          Pemahaman tentang Peran dan Kedudukan Bunda Maria dari sudut pandang Katolik, Protestan dan Islam tentu tidak akan serupa, pasti berbeda (dan bahkan bisa bertentangan) dan tidak bisa dipaksakan untuk menjadi serupa.

-          Namun pastilah juga ada persamaan-persamaan yang bisa diterima bersama guna membangun komunikasi dan mempererat ikatan kasih dengan menghargai dan menerima perbedaan-perbedaan pandangan itu.

-          Masing-masing pihak telah mempunyai pemahaman sendiri tentang Bunda Maria dan pembahasan dari Pendeta Yerry tidaklah bermaksud menyinggung apalagi mengoreksi pandangan dan kepercayaan umat Katolik terhadap Bunda Maria.

-          Seminar ini haruslah didasari kasih yang membangun kebersamaan di tengah perbedaan agar makin terciptanya kerukunan antar umat beragama menuju masyarakat yang harmonis.

Pendeta Yerry mengatakan, membicarakan Bunda Maria menurut sudut pandan Protestan tentunya harus berdasarkan dari sudut pandang Alkitab saja. Sehingga dikatakan bahwa menurut Pendeta Yerry bahwa penekanan ada pada kedaulatan dan kasih karunia Allah dan bukan pada Maria sendiri.

          Dikatakan bahwa Allah berdaulat untuk memilih dan memberi kasih karunia kepada siapa saja yang Allah kehendaki, bukan karena orang itu baik atau tidak berdosa. Sehingga dalam hal ini Maria hanyalah berperan sebagai penerima mukjizat dan bukanlah fokus utamanya. Dengan demikian, doktrin Maria Immacute dan Non Posse Peccare yang ditujukan kepada Maria bukanlah doktrin dari Protestan dan tidak ditunjang oleh kebenaran Alkitab.

          Dalam teologi Protestan tidak dikenal Maria Bunda Allah namun Maria dikenal dengan istilah-istilah umum seperti Perawan Maria, Anak Dara Maria dan Maria Ibu Yesus. Hal itu disebabkan karena Alkitab tidak memberikan penekanan khusus kepada Maria Ibu Yesus. Maria memanglah Ibu Yesus, namun ketika Ibu Yesus ditingkatkan menjadi Bunda Allah, itu tidak ada dalam teologia Protestan. Peran Maria adalah sebagai Ibu Yesus di bumi, perawan yang rahimnya dipakai sebagai alat Allah untuk mengandung dan melahirkan Yesus.

          Pendeta Yerry juga mengatakan bahwa tidak ada satu ayat pun dalam Alkitab yang mereferensikan bahwa Maria adalah Bunda Gereja, yang membidani atau yang melahirkan gereja. Tidak terlihat bahwa Maria Ibu Yesus digambarkan sebagai pemimpin, baik secara formal atau informal dalam pertemuan jemaat mula-mula.

          Dari keterangan di atas dapat dilihat bahwa banyak hal dalam pandangan Katolik yang tidak dikenal dalam doktrin Protestan. Perbedaan-perbedaan itu adalah wajar dan harus diterima sebagai sebuah kenyataan tanpa perlu dipertentangkan. Namun demikian, pandangan mendasar mengenai Bunda Maria menurut teologi Protestan adalah:

-          Perawan Maria, Anak Dara Maria adalah perempuan, perawan yang mengandung dan melahirkan Yesus dari Roh Kudus.

-          Maria adalah orang yang dikaruniai, yang beroleh kasih karunia dihadapan Allah dan diberkati di antara semua perempuan.

-          Keteladanan Maria dalam hal ketaatannya sebagai hamba Tuhan perlu ditiru oleh semua umat manusia.

Sebagai penutup, Pendeta Yerry menegaskan bahwa umat Protestan sangat menghargai dan menghormati peran Maria, sebagaimana Pengakuan Iman Rasuli yang selalu diucapkan setiap hari Minggu dalam ibadah-ibadah gereja Protestan:

“Aku percaya kepada Allah Bapa yang Mahakuasa, Khalik langit dan bumi. Dan kepada Yesus Kristus AnakNya yang tunggal, Tuhan kita. Yang dikandung daripada Roh Kudus, lahir dari anak dara Maria...”

          Pembicara terakhir dalam seminar ini adalah Romo Pidyarto Gunawan, O.Carm yang merupakan guru besar STFR Widya Sasana Malang di bidang Kitab Perjanjian Baru. Romo yang memperoleh gelar doktor di bidang teologi Alkitabiahnya dari Universitas St. Thomas Roma ini membuka pembahasannya tentang Maria ini dengan mengatakan bahwa ajaran Katolik mengenai Bunda Maria tidak mudah dipahami oleh pihak luar, bahkan sering kali menimbulkan kesalahpahaman. Oleh karena itu dialog tidak perlu mencari kata sepakat, tetapi berusaha memahami posisi pihak lain guna menghindari kesalahpahaman tersebut.

          Ketika membicarakan tentang Maria menurut paham Gereja Katolik tentunya didasari oleh 3 hal yang menjadi dasar hukum Gereja Katolik itu sendiri yaitu Alkitab, Tradisi Suci dan dokumen-dokumen resmi, seperti konstitusi dogmatis Lumen Gentium (Konsili Vatikan II); himbauan apostolik Paus Paulus VI Marialis Cultus dan Redemptoris Mater (ensiklik Paus Yonahes Paulus II).

          Pertama-tama, Romo Pidrato ingin menekankan bahwa Gereja Katolik memandang Maria sebagai manusia biasa. Maria juga harus diselamatkan. Namun karena pahala Putranya, ia ditebus secara lebih unggul. Maria mendapatkan rahmat penebusan yang diberikan oleh Yesus Kristus jauh sebelum Dia wafat di kayu salib. Gereja Katolik meyakini bahwa Maria sejak awal kehidupannya dibebaskan Allah dari segala bentuk dosa. Keyakinann yang sama dianut oleh Gereja Ortodoks yang memberi gelar panhagia kepada Maria yang artinya Yang Kudus seluruhnya.

          Gereja Katolik memberi Maria banyak gelar seperti Pembela, Pembantu, Penolong dan Perantara. Gelar-gelar ini sering menimbulkan salah paham bagi orang-orang Protestan karena dalam arti tegas gelar-gelar tersebut sebenarnya hanya cocok untuk Yesus Kristus.

          Gelar Mitra Pengantara atau Pengantara Bersama (Co-Mediatrix) tidak bertentangan dan mengaburkan peranan Yesus sebagai satu-satunya Pengantara Allah dan manusia. Gelar tersebut tidak membuat Maria sejajar dan menjadi saingan Yesus. Peranan Maria adalah sebagai sub-ordinasi dari peranan Yesus Kristus dan Gereja Katolik meyakini bahwa peranan Kristus sebagai satu-satunya Pengantara tidak meniadakan aneka bentuk kerja sama dari pihak manusia. Dalam tradisi Katolik terkenal ucapan “Per Mariam ad Iesum” yang artinya melalui Maria sampai kepada Yesus.

          Mengenai gelar Bunda Allah, Romo Pidyarto mengatakan bahwa Gereja Katolik tidak bermaksud meng-allah-kan Maria. Maria juga bukanlah ibu yang melahirkan Allah, juga bukan istri dari Allah Bapa dan bukan Allah ibu. Maria disebut Bunda Allah sejauh dia telah mengandung dan melahirkan Yesus yang merupakan benar-benar Allah dan benar-benar manusia pula. Penyebutan gelar ini juga berasal dari Lukas 1:43 tentang sebutan Elisabet ketika menerima kunjungan Maria dan berseru: “Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?” Istilah Tuhan yang dipakai berasal dari kata Yunani Kyrios, suatu gelar ilahi yang kelak oleh para rasul dikenakan pada Yesus ketika mereka sudah sampai oada iman akan Yesus sebagai Allah. Jadi jauh sebelum Yesus diakui sebagai Allah, Injil Lukas sudah meletakkan gelar itu pada mulut Elisabet.

          Gereja Katolik  menegaskan bahwa penghormatan kepada Maria secara hakiki berbeda dengan penyembahan yang ditujukan hanya kepada Allah. Hal itu juga dibedakan dari istilah yang dipakai. Gereja Katolik memakai istilah dulia untuk penghormatan kepada orang-orang kudus biasa. Sedangkan untuk penghormatan istimewa kepada Maria, Gereja Katolik memakai istilah hyperdulia. Penyembahan untuk Allah dikenal dengan istilah latria.

          Penghormatan kepada Maria yang direstui Gereja Katolik adalah kebaktian yang berada dalam batas-batas ajaran yang sehat dan benar. Selain itu Gereja Katolik menghimbau kepada para teolog dan pewarta sabda dalam memandang martabat Maria yang istimewa itu sungguh-sungguh mencegah segala ungkapan berlebihan yang palsu.

          Dalam Gereja Katolik, Maria adalah manusia biasa namun Allah telah memilih dia untuk menjadi manusia yang sangat istimewa karena telah mengandung dan melahirkan Yesus, Anak Allah yang menjelma menjadi manusia (Gal 4:4). Jadi pembicaraan tentang Maria tidak bisa dilepaskan dari hubungan Maria dengan Yesus yang merupakan jalan keselamatan manusia.

          Menurut Gereja Katolik, benih-benih kehadiran Maria telah ada dalam kitab Perjanjian Lama. Pada kitab Kejadian 3:15 di mana Tuhan mengatakan bahwa antara ular tua (iblis) dengan wanita itu akan mengadakan permusuhan sampai keturunan-keturunannya. Wanita itu ditafsirkan sebagai Maria dan bukanlah Hawa. Nubuatan tentang Maria juga tertulis di Yesaya 7:14 bahwa seorang perempuan muda akan mengandung dan melahirkan Anak yang disebut Imanuel. Kata partheos yang berarti perawan, dipakai oleh Septuaginta yang memperjelas bahwa wanita itu adalah Maria. Gereja Katolik juga menganggap bahwa Maria adalah seorang dari kaum anawim, yaitu kaum miskin dan saleh yang sangat merindukan keselamatan bagi bangsa Israel.

          Apa yang sudah dipersiapkan dalam Perjanjian Lama akhirnya mencapai kepenuhannya pada zaman Perjanjian Baru. “Setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya, yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat” (Gal 4:4). Maka Allah mengutus malaikat Gabriel kepada perawan Maria. Gabriel menyapa Maria, "Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau” (Luk 1:28). Gabriel tidak memanggil dia dengan nama pribadinya, Maria, tetapi dengan gelar “yang dikaruniai”. Memang Maria adalah seorang yang “beroleh kasih karunia di hadapan Allah” (Luk 1:28) dan yang diberkati di antara semua perempuan (Luk 1:42). Sejak dahulu gelar “yang dikaruniai” (Yunaninya: kecharitomene) merupakan gelar luar biasa yang tidak pernah diberikan kepada manusia lain. Kecharitomene adalah suatu bentuk kata kerja Yunani charitóô, yang secara harafiah berarti: membuat seseorang menjadi karunia. Jadi, kecharitomene dapat diterjemahkan dengan “(Maria, engkau) yang telah diubah menjadi karunia”. Itu berarti, Maria itu sungguh-sungguh dilimpahi dengan karunia Allah sehingga menjadi indah dan berkenan di hati Allah dan penuh dengan karunia-Nya.

Dengan demikian, kita bisa mengerti mengapa Vulgata (versi Alkitab dalam bahasa latin) menerjemahkan kecharitomene dengan “gratia plena” (=penuh karunia). Dalam Ef 1:6-7 ini kita bisa menemukan dasar untuk tafsiran Gereja Katolik bahwa Maria itu dikaruniai Tuhan dalam arti ia telah disucikan dari segala bentuk dosa. Bedanya: kalau jemaat kristen dulu pernah berdosa lalu disucikan oleh Tuhan, maka Maria disucikan sejak awal kehidupannya.

Dalam kaitan dengan fungsi Maria sebagai Bunda Yesus atau Bunda Allah ini, Gereja Katolik yakin bahwa Maria telah dipersiapkan secara khusus. Untuk menyediakan tempat kediaman yang pantas bagi Anak Allah yang menjadi manusia melalui tubuh dan jiwa Maria, maka Maria sudah dibebaskan dari segala bentuk dosa sejak saat pertama kehidupannya. Berhubung ia bebas dari dosa warisan atau pun dosa pribadi, Maria dimampukan untuk bekerja sama secara sempurna dengan rencana Allah. Tanpa kehilangan kebebasan manusiawinya, dia menaati kehendak Bapa.

Gereja Katolik menerima tafsiran kuno bahwa perempuan dalam Why 12 adalah gambaran dari Maria, ibu Yesus, yang memang pada hakikatnya bermusuhan dengan Iblis. Mengikuti tradisi yang sudah sangat kuno, Gereja Katolik juga percaya bahwa Maria tetap perawan, baik sebelum hamil, selama hamil dan sesudah melahirkan. Keperawanan Maria ini tidak dilihat pertama-tama sebagai keperawanan fisik (dalam arti selaput daranya tetap utuh), melainkan lebih dalam arti rohani, yakni keperawanan sebagai tanda bahwa seluruh kepribadian Maria, jiwa dan raganya, adalah milik Allah dan secara total terarah kepada Allah.

          Tentunya Maria tidak berbeda dengan banyak ibu Yahudi lainnya yang secara luar biasa mendidik anaknya menjadi orang saleh. Misalnya, ia mengajak Yesus ke Yerusalem untuk beribadat (Luk 2:42). Dapat diandaikan, Maria selalu berada di samping Yesus selama di Nazaret hingga Yesus memulai karya-Nya pada usia sekitar 30 tahun.

          Berbeda dengan ibu para tokoh Alkitab lainnya, Maria adalah seorang ibu yang dikaitkan secara amat erat dengan kehidupan serta misi anaknya. Memang, ayat-ayat yang menyatakan bahwa Maria berada dekat dengan Yesus selama pelayanan-Nya di dunia sedikit saja. Akan tetapi jumlah ayat bukanlah segala-galanya. Lebih penting dari jumlah ayat adalah posisi yang diduduki ayat tentang Maria dalam suatu kitab. Dalam Injil Yohanes, “ibu Yesus” hanya muncul dua kali (Yoh 2:1-11dan 19:25-27). Akan tetapi, dia muncul pada awal dan akhir dari pelayanan Yesus di dunia. Dalam Alkitab, penyebutan dua ujung sering berarti keseluruhan yang ada di antara kedua ujung tersebut. Misalnya, kalau dikatakan dalam Kej 1:1, “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi” maka yang dimaksud adalah penciptaan langit dan bumi beserta segala sesuatu yang ada di antara keduanya. Dengan demikian, Injil Yohanes rupanya bermaksud menyatakan bahwa Maria hadir pada seluruh pelayanan Yesus di dunia ini. Secara fisik Maria tidak mengikuti perjalanan Yesus, tetapi tentunya secara rohani dia mengikuti sepak terjang anaknya itu. Suatu saat, Maria harus menyaksikan sendiri bagaimana Yesus bergantung di kayu salib (Yoh 19:26-27). Pada saat yang amat penting bagi keselamatan umat manusia itu, Yesus menyerahkan ibu-Nya kepada murid yang dikasih-Nya sambil berkata, “Inilah, ibumu!” Gereja Katolik yakin, murid yang dikasihi Yesus itu mewakili semua murid yang dikasihi Yesus (Yoh 19:26-27). Tidak mungkin Yesus, pada saat yang begitu penting, hanya bermaksud menitipkan ibu-Nya secara fisik pada seorang murid-Nya. Tentunya tindakan-Nya itu memiliki makna lebih dalam: Maria dijadikan ibu rohani bagi umat-Nya. Maka, Gereja Katolik memberi Maria gelar Bunda Gereja.

          Setelah Yesus naik ke surga, Maria tidak putus hubungan dengan kelompok murid Yesus. Maria kedapatan tekun berdoa bersama dengan para murid Yesus untuk menantikan kedatangan Roh Kudus.

          Sampai sejauh ini, kita sudah melihat peranan Maria dalam sejarah keselamatan, mulai dari kerelaannya untuk menjadi Bunda Penebus hingga turunnya Roh Kudus yang dijanjikan Yesus kepada Gereja. Ia dikaitkan secara amat erat dengan karya penyelamatan yang dikerjakan oleh Yesus. Oleh karena itu, Gereja Katolik percaya bahwa setelah mengalami kematian sejenak, Maria pun segera dibangkitkan dari kematian lalu dipersatukan secara erat dengan Yesus Kristus yang sudah mulia dengan badan dan jiwa-Nya di surga. Dengan demikian Maria semakin menyerupai Yesus Kristus (Lumen Gentium 59; Katekismus Gereja Katolik 965). Namun, apa yang kini sudah dialami oleh Maria kelak akan dialami juga oleh orang beriman lainnya. Maria hanya mendahului apa yang masih akan dialami orang lain. Keadaan Maria yang sekarang sudah mulia di surga menjadi cermin dari tujuan akhir hidup orang beriman. Dalam Ibadat untuk menghormati pengangkatan Maria ke surga, dibacakan Why 11:19; 12:1-6.10 yang melukiskan penampakan seorang perempuan mulia di langit. Perikop ini tidak hanya menerangkan kesucian Maria (sebagai musuh Iblis) tetapi juga sebagai suatu perikop yang melukiskan keadaan Maria yang sudah mulia di surga.

          Yesus Kristus tidak bisa dilepaskan dari Gereja yang didirikan-Nya. Maka dari itu, Konsili Vatikan II membahas Maria tidak hanya dalam kaitannya dengan Yesus tetapi juga dalam kaitannya dengan Gereja-Nya. Maria dipandang sebagai anggota Gereja Yesus tetapi anggota Gereja yang paling sempurna. Dalam dirinya sudah terpenuhi panggilan Gereja Yesus untuk menjadi “jemaat kudus dan tidak bercela” (Ef 5:27). Oleh karena itu, Maria adalah teladan bagi semua anggota Gereja Yesus. Maria adalah teladan dalam banyak hal, tetapi terutama hal iman dan cinta kasih (Lumen Gentium 53; 65).

          Mengingat besarnya partisipasi Maria dalam karya penebusan Yesus, maka Gereja Katolik dalam ibadat resminya kerap sekali mengenang Maria dengan rasa hormat dan kasih keputeraan. Di luar ibadat resmi pun, yakni dalam doa-doa umat Katolik, Maria dikenang, dipuji, dan dihormati. Dengan demikian genaplah nubuatan yang diucapkan Maria sendiri, “Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia” (Luk 1:48).

          Akhirnya Romo Pidyarto mengatakan bahwa patut dicatat bahwa Gereja Katolik yakin bahwa Maria mempunyai sifat sosial yang besar. Ia mengunjungi Elisabet, saudarinya, yang sedang hamil tua (Luk 1:39). Ia menolong pengantin di Kana yang mengalami kesukaran karena dalam pesta pernikahannya, persediaan anggurnya habis (Yoh 2:1-11). Dalam kedua peristiwa tadi Maria sendiri yang mengambil inisiatif untuk menolong sesamanya. Menarik untuk dicatat bahwa dalam kisah perjamuan nikah di Kana (Yoh 2), Maria terbukti menjadi pengantara atau pendoa yang luar biasa. Meski Yesus pada awalnya memberi kesan menolak permohonan ibu-Nya, nyatanya, berkat permohonan Maria pada akhirnya Yesus membuat juga mukjizat untuk menolong pengantin itu. Bila selama hidup di dunia ini Maria sudah rajin menolong atau mendoakan sesamanya, tentunya kini, di surga, ia lebih rajin mendoakan anak-anaknya, entah diminta entah tidak, yang masih mengembara di dunia (bdk. Lumen Gentium 62). Kalau semasa hidup di dunia, doanya sudah mempunyai kuasa, apalagi kini ketika ia sudah mulia di surga. Seperti kebanyakan ibu lainnya, tentunya Maria mendoakan anak-anaknya, juga kalau anaknya itu tidak meminta kepadanya. Akan tetapi, tentu saja lebih baik kalau anak-anaknya rajin meminta pertolongan doanya.

          Setelah Romo Pidyarto mengakhiri bahasannya, seminar rehat untuk makan siang. Tepat pukul 13.00 WIB, seminar dimulai kembali dengan sesi tanya jawab. Tampaknya pada saat sesi tanya jawab tersebut, Kang Jalal menjadi bintang karena mendapat pertanyaan paling banyak yang melebar ke arah hubungan dan relasi antar umat beragama di Indonesia. Namun dengan sabar dan santai, Kang Jalal dapat menjawab semua pertanyaan dengan diselingi oleh sedikit canda di sana-sini.

          Akhirnya karena keterbatasan waktu, Mas Wendo menutup acara seminar tersebut walau masih banyak peserta yang ingin mengajukan pertanyan. Beliau mengatakan bahwa seminar tersebut tentu masih banyak kekurangan dan tidak dapat memuaskan semua pihak. Namun kiranya melalui seminar semacam ini dapat dimulai dialog antar umat beragama secara lebih dewasa dan bisa menghormati perbedaan yang ada tanpa harus mempermasalahkannya.

          Menurut saya pribadi, seminar tersebut akan tampak lebih seru lagi jika ditambah satu pembicara dari sudut pandang Kristen Ortodoks. Karena secara dogmatis ada yang berbeda dengan pandangan Katolik, namun sama-sama melakukan penghormatan lebih kepada Bunda Maria.


Blog EntryMay 30, '10 8:26 PM
for everyone
http://luigi3665.wordpress.com/2010/05/04/maria-bukan-lagi-monopoli-orang-katolik/
Maria Bukan Lagi Monopoli Orang Katolik
4 Mei 2010 - Ludovikus
Oleh: Patricia Zapor (Catholic News Service, 8 Desember 2006)

Majalah Time yang mengangkat tema-tema mengenai Kekristenan Masa Kini telah menemukan bahwa Maria, Bunda Yesus, tidak lagi hanya bagi orang-orang Katolik.

Tulisan-tulisan mengenai Maria menjadi tema favorit banyak editor yang mencari tema agama menjelang Natal. Malahan dalam beberapa tahun belakangan ini banyak artikel yang memusatkan perhatian pada perkembangan positif popularitas Maria di kalangan kaum Protestan.

Seorang imam Marianis, Pater Thomas Thompson, editor Marian Library Newsletter di Universitas Dayton di Ohio, menunjukkan bahwa perkembangan penerimaan Maria di kalangan Protestan tetap lebih didasarkan pada pandangan Kitab Suci, bukan pada perubahan pandangan teologi Protestan.

Beberapa ajaran sah Gereja Katolik mengenai Maria, seperti Maria yang Dikandung Tanpa Noda Dosa - keyakinan yang menyatakan bahwa dia terkandung tanpa noda dosa - tetap menjadi soal kontroversial di kalangan Protestan. Namun, bersamaan dengan semangat anti-Kekatolik-an yang telah menurun di kalangan Protestan, halangan-halangan pada kaum Episkopalis, Baptis dan Evangelis untuk berpaling kepada Maria pun telah memudar.

"Kita sangat berbahagia menyaksikan sesama saudara yang lain mempunyai ketertarikan kepada Maria," demikian ujar Pater Thomson.

Timothy George, dekan Beeson Divinity School di Samford University, sebuah kolese gereja Baptis di Birmingham, baru-baru ini menulis bahwa "Inilah saatnya bagi kaum evangelicals untuk menemukan kembali suatu penghormatan yang sepenuhnya bersifat biblis kepada Santa Perawan Maria dan perannya di dalam sejarah keselamatan, dan bertindak sebagaimana mestinya orang-orang evangelis." Komentar George ini muncul di dalam jurnal Kekristenan Masa Kini (Christianity Today) edisi Desember 2003 dan di dalam kumpulan esai karangan pelbagai teolog pada 2004 dengan judul, "Maria: Bunda Allah".

"Kita mungkin tidak dapat mendaraskan doa Rosario atau berlutut di hadapan arcanya, tetapi kita tidak dapat melepaskan dia," demikian tulis George.

Di dalam majalah itu, dia mengutip ahli Perjanjian Lama gereja Baptis abad 20, A. T. Robertson, yang mengatakan Maria "belum menerima perlakuan yang adil baik dari kaum Protestan maupun orang-orang Katolik." Robertson berpendapat bahwa sementara orang-orang Katolik "mendewakan" Maria, kaum evangelis telah secara dingin mengabaikan dia.

"Kita telah menjadi takut untuk memuji dan menghargai Maria sepantasnya," ujar George, sambil mengutip Robertson, "agar tidak dituduh agak condong dan simpati kepada orang-orang Katolik."

Artikel George berlanjut dengan menjelaskan dasar historis, kitabiah dan teologis mengapa orang-orang Protestan seharusnya menerima Maria.

"Kita tidak perlu perlu untuk pergi kepada Maria supaya menjumpai Yesus," George menyimpulkan, "tetapi kita dapat bergabung dengan Maria dalam mengarahkan orang-orang lain kepada-Nya."

Sebuah buku terbaru, "Yang Terberkati," adalah sebuah kumpulan 11 esei mengenai Maria oleh para sarjana Protestan.

Di dalam pengantar mereka, editor Beverly Roberts Gaventa dan Cynthia L. Rigby, profesors di Seminari Theologis di Princeton, New Jersey, dan Seminari Theologis Presbiterian Austin di Texas, dengan penuh hormat, mengatakan bahwa tujuan buku itu adalah untuk membantu orang-orang Protestan berpikir dengan cara baru mengenai Maria, "dengan membekati [menyalami] dia dan diberkati/disalami oleh dia."

"Dia adalah manusia beriman yang tidak selalu mengerti tetapi yang berusaha untuk menaruh seluruh kepercayaannya kepada Allah," demikian mereka menulis.

Bagi kaum Muslim, di lain pihak, Maria selalu menjadi seorang teladan.

John Alden Williams, profesor emeritus di bidang sisi-sisi kemanusiaan dalam hidup beragama di Kolese William dan Maria di Virginia, adalah sejarawati Katolik yang telah mempelajari agama dan peradaban Islamik. Dia dan rekan-rekannya, William dan Maria, profesor James A. Bill telah menerbitkan "Katolik Roma dan orang-orang Muslim Syia" pada 2002.

Karya itu mencatat bahwa dua bagian Al Qur'an, Kitab Suci Islam, dipersembahkan kepada Maria, yang dikenal sebagai Maryam. Dia diakui sebagai perempuan murni yang dipilih untuk menjadi ibu Mesias yang telah dijanjikan. Islam menganggap Yesus seorang nabi penting, tetapi bukan sebagai penjelmaan Allah.

Williams menjelaskan di bahwa, seperti orang-orang Katolik, Muslim Syia, yang menjadi kelompok minoritas dibandingkan dengan jumlah besar Muslim Sunni, percaya akan bantuan kepengantaraan santo-santa dan orang-orang kudus lainnya. Termasuk di dalamnya Maria, yang begitu dipuja-puja sebagai seorang pengantara (mediatrix) antara umat manusia dengan Allah. Kaum Sufi, sekte lainnya di dalam agama Islam, juga percaya akan hal itu.

Di dalam Islam Sunni, "seluruh gagasan mengenai kepengantaraan diperdebatkan," demikian kata Williams, "persis seperti di kalangan kaum Protestan Kalvinis."

Di antara sekian banyak perbedaan yang dimiliki para pemimpin Reformasi Protestan terhadap Gereja Katolik adalah pertumbuhan devosi kepada Maria sepanjang Abad Pertengahan. Kaum Reformer beranggapan bahwa Yesus adalah satu-satunya Pengantara Allah dan umat manusia dan bahwa "devosi Marial yang begitu subur tampak bagi mereka mengancam kejernihan pesan Injil bahwa keselamatan itu hanya oleh rahmat, melalui iman saja, melalui Kristus saja," tulis Daniel L. Migliore, seorang professor teologi di Princeton Theological Seminary, di dalam tulisannya di dalam buku "Yang Terpuji [Blessed One]."

Kaum Muslim yang mencari bantuan Maria, di lain pihak, memandang dia hampir dengan seperti orang-orang Katolik, kata Williams.

Ketika tinggal di Timur Tengah, dia mengatakan bahwa dia menyaksikan sendiri beberapa contoh yang mencolok mengenai penghormatan orang-orang Muslim kepada Maria.

Di biara Bunda Maria, sebuah gereja Orthodoks di Sednaya, Syria, dia menyaksikan orang-orang Muslim dengan khidmat membentangkan sajadah mereka untuk bergabung dengan orang-orang Kristen mengormati sebuah ikon Maria yang dianggap/dipercayai telah dilukis oleh St. Lukas Pengarang Injil dan percaya mempunyai daya penyembuhan atas pelbagai penyakit.

Dan pada akhir 1960-an, banyak orang Muslim ada di antara jutaan orang yang berkumpul di sebuah gereja Koptik Ortodoks di Mesir, sambil berharap akan melihat biarpun cuma sekilas penampakan-penampakan Maria yang dilaporkan, demikian kata dia.

Selama lebih dari setahun mulai pada 1968, penampakan Maria dikatakan terjadi di atas kubah Gereja Santa Perawan Maria di Zeitoun wilayah Kairo.

Williams pergi ke gereja itu satu kali pada rentang waktu itu dan terheran-heran menyaksikan begitu banyak orang Muslim di antara orang banyak itu, katanya.

"Saya menanyakan beberapa orang, 'Bukankah agak lucu bagi anda untuk berada di sini di sebuah gereja orang Kristen?'" ujar Williams. Mereka mengatakan bahwa kehadiran mereka di situ sebenarnya karena Maria hendak menampakkan dirinya di dalam sebuah gereja yang dipersembahkan kepadanya, sembari menjelaskan bahwa mereka percaya dia berbicara kepada semua orang Mesir, bukan hanya kepada orang-orang Kristen.

"Mereka melihat peristiwa itu sebagai sebuah tanda penghiburan setelah perang dengan Israel (pada 1967) bahwa Allah tidak melupakan orang-orang Mesir," kata dia.

Sumber: MARY-INTERFAITH Dec-8-2006: "Mary not just for Catholics anymore" by Patricia Zapor /Washington/Catholic News Service
http://www.catholicnews.com/data/stories/cns/0607019.htm
disadur bebas oleh: LdN.


Photo AlbumSi Piyo Masuk KlinikJan 3, '10 4:30 AM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd

Photo AlbumNovena 9 Gereja di Jakarta, BersepedaJan 3, '10 12:54 AM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Menyambut tahun baru 2010, saya dan beberapa teman mengadakan doa Novena yang dilakukan di 9 Gereja di Jakarta. Dimulai dari Katedral dan berakhir di Gereja Santa. Inilah rutenya:

Gereja Katedral – Jl. Veteran – Jl. Gajah Mada – Jl. KH Hasyim Ashari

Gereja BHK – Jl. KH Hasyim Asyari – Jl. Gajah Mada – putar balik – Jl. Hayam Wuruk – Jl. Majapahit – Jl. Medan Merdeka Barat – Jl. MH Thamrin – Jl. Sunda

Gereja St. Theresia – Jl. Gereja Theresia – Jl. HOS Cokroaminoto – Jl. Imam Bonjol – Jl. Diponegoro – Jl. Madiun – Jl. Latuharhari

Gereja Ign. Loyola – Jl. Sultan Agung – putar balik – Jl. Sultan Agung – Jl. Galunggung – Jl. Karet Pasar Baru – Jl. Penjernihan – Jl. Danau Tondano

Gereja Kristus Raja – Jl. Danau Tondano – Jl. Penjernihan – Jl. Administrasi Negara – Jl. Petamburan 4

Gereja Kristus Salvator – Jl. KS Tubun – Jl. Tali – Jl. Kemanggisan Utama – Jl. Kemanggisan Raya – Jl. Gili Sampeng – Jl. Sang Timur

Gereja Maria Bunda Karmel – Jl. Sang Timur – Jl. Gili Sampeng – Jl. Kemanggisan Raya – Jl. Rawa Belong – Jl. Kebayoran Lama – Jl. Letjen. Soepono (arteri Pondok Indah) – Jl. Teuku Nyak Arif (arteri Pondok Indah) – Jl. Sinabung – Jl. Pakubuwono 6 – Jl. Hang Tuah – Jl. Pati Unus – Jl. Bulungan – Jl. Mahakam - Jl. Melawai

Gereja St. Yohanes Penginjil Blok B – Jl. Melawai – Jl. Tirtayasa – Jl. Cikajang – Jl. Wijaya – Jl. Wolter Monginsidi

Gereja Santa Perawan Maria Ratu Blok Q

Kami bersama-sama melakukan Doa Novena di setiap Gua Maria Gereja tujuan (kecuali di Gereja Kristus Raja, doa dilakukan di dalam Gereja ). Acara ditutup dengan makan di Blok S karena udah banyak yang kelaparan...

Photo AlbumGowes GreenDec 7, '09 5:07 AM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Pengalaman Minggu ke-2 si Koneng jalan-jalan di minggu pagi...

Blog EntryOct 27, '09 12:22 AM
for everyone
Ucap syukur dan terima kasih kepada Allah Bapa dan Bunda Maria di surga atas terkabulnya Novena Tiga Salam Maria.

Sebab kasih karuniaNya selalu menyertai kami sepanjang masa...

amin...

Blog EntryAug 19, '09 10:00 AM
for everyone
banyak sekali yang berubah
banyak sekali yang berganti

prioritas yang berubah
status yang berubah
kesenangan yang berubah
masalah yang berubah

tak pernah sama lagi
kecuali... perubahan itu sendiri

VideoJul 29, '09 4:04 AM
for everyone
Client: Perfetti Van Melle
Agency: Draft FCB Indonesia
CD: Dicky Erlangga
AD: Inco Harper
CW: Rizal
Producer: Advi
Client Service: Chris Yudha
PH: Velocity
Film Dir: Dimas Jay
EP: Owm Indri



Blog EntryMay 15, '09 12:11 PM
for everyone


Ucap syukur dan terima kasih kepada Allah Bapa dan Bunda Maria di surga atas terkabulnya Novena Tiga Salam Maria.

Sebab kasih karuniaNya selalu menyertai kami sepanjang masa...

amin...

Blog EntryApr 21, '09 11:55 AM
for everyone

Di suatu pagi ketika saya hendak berangkat ke kantor, jalanan sudah mulai ramai. Di depan saya tambak sebuah motor skutik yang jalan mengsal-mengsol, kenceng nggak pelan juga nggak. Padahal di depannya tidak tampak kendaraan lain. Karena tak sabar, saya kemudian berusaha mendahului motor tersebut dan saat itu saya melihat si pengendara motor sedang asyik membalas SMS sambil tetap berkendara.

***

Pada hari minggu pagi, ketika saya sedang berada di gereja dan misa baru saja dimulai. Kitab suci baru saja dibacakan dan tepat saat itu pula terdengar sayup-sayup lagu Kris Dayanti yang makin lama makin keras di belakang saya. Dengan penasaran saya menengok ke belakang dan tampaklah seorang ibu yang sedang panik merogoh tasnya. Ternyata lagu tersebut berasal dari panggilan ponselnya yang lupa disilent sebelum misa dimulai.

***

Di sebuah pasar swalayan, saya sedang melihat-lihat rak untuk mencari barang yang saya akan beli. Tiba-tiba... bruk!!! Seorang ibu menabrak saya dan membuat keranjang belanja yang saya pegang terjatuh. Ibu tersebut juga mengelus-ngelus kepalanya yang secara reflek terkena tangan saya. Tanpa bicara apa-apa dan malahan sambil merengut ibu tersebut berlalu dari hadapan saya sambil meneruskan ber-sms ria.

***

Saat itu kebetulan saya sedang naik transjakarta untuk berangkat ke kantor. Karena sudah lumayan siang maka semua penumpang kebagian tempat duduk. Tepat di depan saya ada seorang ibu yang tampak keletihan, tak tau dia dari mana, dan tampaknya sangat mengantuk. Tiba-tiba seorang bapak di samping ibu tersebut mendapat panggilan dari ponselnya. Tak mengerti apa yang dibicarakan, karena bicara dalam bahasa daerah, si bapak berbicara dengan volume yang kencang sekali sampai-sampai si ibu terkaget-kaget dan lepas dari rasa kantuknya. Hampir setiap orang yang ada di bus melihat ke arah si bapak tersebut, namun dengan cueknya si bapak melanjutkan bicaranya di ponsel... tetap dengan suara kerasnya.

***

Sepertinya masih banyak lagi kejadian yang kita alami sehari-hari yang berhubungan dengan ponsel dan kita merasa terganggu dengannya. Bisa di jalan, di masjid atau yang paling dekat di ruang mitinglah. Kejadian tersebut sering membuat saya bertanya-tanya dalam hati... Itu orang gak tau atau sengaja sih? 

Ponsel seharusnya menjadi wilayah privat seseorang yang harusnya pula tidak mengganggu wilayah publik. Kesadaran individu yang masih kurang sehingga terjadi benturan antara kepentingan pribadi dengan kepentingan umum.

Tidak sedikit kejadian yang kemudian merugikan di penelpon. Risiko kecelakaan lalu lintas juga meningkat seiring dengan penggunaan ponsel di jalan raya. Mungkin karena hal tersebut akhirnya Pemda DKI mengeluarkan Perda tentang larangan menggunakan ponsel di jalan raya (ada yang tau Perda nomor berapa?). Namun tampaknya keseriusan aparat dalam menjalankan Perda tersebut masih sangat kurang. Saya adalah orang yang awam hukum, sehingga tau aparat mana yang berwenang untuk menindak ketika terjadi pelanggaran Perda tersebut. Apakah pihak kepolisian atau pihak pemda atau DLLAJR?

Mungkin pula Perda tersebut tidak jalan karena kurangnya sosialiasi ke masyarakat. Karena sampai saat ini saya masih menyaksikan pelanggaran Perda tersebut di mana-mana, bahkan oleh orang-orang terdekat saya.

Mungkin selain Perda perlu adanya kesadaran dari masing-masing individu tentang hal tersebut. Selain mengganggu orang lain, juga bisa berbahaya buat dirinya sendiri. Sesuatu yang baik (walau kadang sulit) memang harus dimulai. Minimal dari diri saya sendiri...



Blog EntryApr 16, '09 12:16 PM
for everyone
Menanggapi maraknya tulisan tentang Khilafah Islamiyah membuat saya tergelitik untuk mempelajari lebih lanjut tentang hubungan antara agama dengan kekuasaan (negara). Mempelajari sejarah adalah salah satu metode untuk mengetahui sejauh mana praktek hubungan antara agama dengan kekuasaan yang pernah terjadi di muka bumi ini.

Fakta berbicara bahwa agama akan kehilangan fungsi prophetis atau kenabiannya setelah ”berselingkuh” dengan kekuasaan. Agama yang berada dalam subordinasi kekuasaan akan menjadi “alat legitimasi” dari kekuatan politik yang berkuasa. Sedangkan agama seringkali meminjam tangan kekuasaan untuk memaksakan kebenaran teologisnya.

Ketika Kaisar Konstantin mendeklarasikan bahwa Kristen menjadi agama negara, maka saat itu pula Kristen naik kelas dari agama rakyat menjadi agama negara dengan segala atribut kebanggaannya. Pada saat itulah sejarah membuktikan bahwa terjadi penindasan demi penindasan yang dilakukan oleh Kristen yang satu terhadap Kristen lain yang dianggap berseberangan aliran dengan dinyatakan sebagai sesat. Bahkan banyak terjadi pula penindasan secara fisik terutama di Gereja-Gereja Timur. Pada saat itulah tentara Arab Muslim menjadi pembebas bagi gereja-gereja yang tertindas.

Sayangnya kemudian sejarah terulang, ketika akhirnya Islam menjadi status quo yang mendukung dinasti Ummayah, seperti pada pemerintahan Kalifah Umar bin Abd al-Aziz yang terkenal adil di kalangan rakyat jelata, tetapi dalam masalah agama sangat diskriminatif terhadap orang-orang Yahudi dan Kristen saat itu.

Kemudian muncullah ide pemisahan agama dengan negara yang sering dicap dengan sebutan ”sekuler”. Penerapan ”sekuler” dunia barat ini menjadi ekstrem dengna benar-benar mensterilkan penyelenggaraan negara dari moral dan nilai-nilai agama. Pada awalnya, istilah sekularisasi ditujukan untuk ”menghantam” kekuasaan yang mendewakan raja dan negara. Dalam kekuasaan absolut tersebut, agama dijadikan justifikasi untuk merebut dan melanggengkan kekuasaan. Raja sudah menjadi tuhan-tuhan kecil begitu juga Paus mempunyai kekuasaan seperti raja.

Mengingat dua hal tersebutlah kemudian para Bapak Bangsa Indonesia menjadikan Pancasila sebagai Dasar Negara Indonesia. Dalam hal ini, Pancasila dimaksudkan untuk menghindari ”sekularisme” dan juga negara agama. Dalam hal ini sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa diartikan oleh Th. Van Leewen sebagai ”hubungan antara negara dan agama dapat dipertahankan tanpa harus memproklamasikan sebuah negara Islam.”

Melalui Pancasila pula Indonesia dapat keluar dari blok kapitalis dan komunis yang saat itu pernah dirasakan sebagai ”raksasa” yang menggencet negara-negara berkembang. Kita juga dapat melihat dari sejarah bahwa isu agama bisa memecah-belah. Lihatlah perpecahan Belanda dengan Belgia yang terjadi karena faktor perbedaan agama. Pakistan juga telah memisahkan diri dari India karena alasan yang sama.

Sejarah membuktikan bahwa tidak ada kejahatan yang melebihi kejahatan yang digerakkan oleh sentimen keagamaan. Sebut saja perang salib, inkuisisi Gereja Katolik di Spanyol pada abad ke-15 M, dan yang terakhir adalah gerakan terorisme yang digerakkan oleh paham fundamentalis Islam yang masih marak beberapa tahun belakangan ini.

Kembali ke Indonesia, bahwa saatnya kita menegaskan kembali arah kebangsaan kita melalui Pancasila yang secara ideologi jelas ”bukan negara agama dan bukan pula negara sekuler”. Hal ini dapat dilihat dengan kenyaataan bahwa walaupun jumlah Islam di Indonesia adalah mayoritas namun tidak mencantumkan Islam sebagai ”agama negara” sekaligus memberlakukan syariat-syariatnya sebagai undang-undang kenegaraan.

Sebaliknya yang menunjukkan bahwa Indonesia adalah ”bukan negara sekuler” adalah dengan dibentuknya Departemen Agama yang tujuannya adalah untuk memayungi semua agama yang ada di Indonesia. Dengan lembaga ini, negara bukanlah tidak memberikan tempat sama sekali kepada agama namun pada batas-batas tertentu memberikan fasilitas dan jaminan kepada warga negaranya untuk melaksanakan keyakinan agamanya masing-masing.

Perlu ditekankan bahwa Negara Pancasila sama sekali tidak bertentangan dengan penegakan syariah, asalkan ditempatkan pada konteks ”wilayah privat” warga negara karena Indonesia ”bukan negara sekuler”. Sebaliknya karena Indonesia ”bukan negara agama” maka kanonisasi syariah atau pemberlakuan syariah sebagai hukum positif (undang-undang) oleh tangan kekuasaan negara haruslah dihindari.

Semoga kita semua makin menghargai hubungan antara agama dengan negara secara tepat tanpa memikirkan kepentingan pribadi atau golongan belaka.


Blog EntryMar 18, '09 1:23 PM
for everyone
Setelah lama dimanjakan oleh banyaknya fasilitas di Facebook... aku akhirnya merindukan kembali Multiply... Di jejaring sosial ini sebenarnya aku belajar untuk menjadi lebih peka dan kreatif. Melihat posting dari teman-teman, lalu berusaha me-reply... Mungkin bukan solusi tapi cukup menjadi empati. Dan juga berbagi rasa dengan berbagai macam tulisan, isi hati dan pemikiran sejati.

Tapi semenjak ada Facebook, kebiasaan itu berubah. Postingan menurun drastis... apalagi meng-upload lagu-lagu seperti dulu... Juga tak pernah lagi sempat membaca postingan teman-teman dan ikut merasakan apa yang sedang terjadi dengan mereka. Celetukan-celetukan ringan di reply sampai tanggapan serius yang mesti dibaca berulang kali jika mau mengerti...

Ah, aku kangen saat-saat Multiply jadi idola... ^_^

ReviewReviewReviewReviewFeb 14, '09 10:45 AM
for everyone
Category:Books
Genre: Religion & Spirituality
Author:Ayu Utami
Bilangan Fu merupakan novel ketiga dari Ayu Utami. Dalam novel ini, super-ego seorang Ayu menjelma menjadi tokoh Yuda, seorang pemanjat tebing yang mempunyai perbedaan nilai-nilai masyarakat. Ayu sendiri secara cukup jelas menjelma menjadi Marja, kekasih Yuda.

Novel yang terdiri dari tiga bagian yaitu Modernisme, Monoteisme dan Militerisme ini kental dengan nuansa sejarah dan berbagai macam mitologi. Ayu menyebrangi jagad mitologi Jawa sampai ke mitologi Yunani kuno. Beberapa unsur klenik juga masuk ke berbagai bagian cerita.

Gw menganggap ini bukan sekedar novel sastra bisa. Ini adalah novel dakwah, sebuah apologi keimanan seorang Ayu Utami. Buat para pembaca yang memang mempunyai latar belakang agama Kristen tentunya sudah sangat tidak asing dengan istilah-istilah yang dicomot sana-sini dari Kitab Suci. Mulai dari khotbah di bukit sampai Klan Saduki.

Bilangan Fu sendiri, gw artikan sebagai penjelasan dari konsep Trinitas dalam agama Kristen. Tak semuanya bisa mengerti, tapi semua pemahaman itu ada dalam hati...


Photo AlbumIni Medan Bung!Feb 9, '09 8:31 PM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd

EventJan 29, '09 11:25 AM
for everyone
Start:     Feb 2, '09 6:30p
Location:     Gedung Kasih Bersaudara Lt.4. Jln. Raden Saleh Raya No.14D Jakarta Pusat
"ELIAS CHACOUR: MAU'IDHAH CINTA DARI PALESTINA. PERJUANGAN DAMAI MERAJUT KEMBALI PERSAUDARAAN YANG TERKOYAK"

Pembicara:
Bambang Noorsena,SH,MA (Ketua ISCS)

Diadakan pada:
Hari : Senin
Tanggal : 2 Februari 2009
Jam : 18.30 WIB sampai selesai
Tempat : Gedung Kasih Bersaudara,
Jl.Raden Saleh Raya No.14D Jakarta Pusat

Sekilas tentang Elias Chacour
Elias Chacour adalah saksi sejarah konflik Palestina Israel, saat awal-awal berdirinya negara Yahudi itu tahun 1948.
Sementara publik barat menyebutnya "penggenapan nubuat Alkitab",ia harus kehilangan rumah & tanah, diusir dari
kampung halamannya sendiri.
Chacour & jutaan orang Kristen Palestina harus menghadapi "tripple" diskriminasi :di mata Barat-Kristen ia aneh karena
membela Arab-Palestina,di mata Israel ia musuh karena ia musuh karena Palestina, dan di mata Arab-Muslim dianggap
"kurang Arab" karena ia Kristen.
Nafas perjuangannya adalah kasih,tanpa kekerasan dan dendam.
Ia berjuang demi Palestina dalam semangat mengasihi orang Yahudi "saudara dari trah yang satu",keturunan Abraham.
Jiwa dari semua itu adalah MAU'IDHAH ALAL JABAL (Kotbah di atas Bukit)

Blog EntryJan 4, '09 5:46 PM
for everyone


Ucap syukur dan terima kasih kepada Allah Bapa dan Bunda Maria di surga atas terkabulnya Novena Tiga Salam Maria.

Sebab kasih karuniaNya selalu menyertaiku sepanjang masa...

amin...


Blog EntryDec 19, '08 8:58 AM
for everyone
Saat ini terdengar lantunan Jingle Bell Rock dari si anak ajaib Connie Talbot. Juga segelas kopi menunggu panasnya berkurang untuk dapat diminum. Ah, kiranya natal sudah semakin dekat. Natal yang selalu membawa haru biru di hati. Melekatkan lagi semua peristiwa demi peristiwa yang pernah terjadi pada diri ini. Seperti sedang merekatkan kepingan-kepingan puzzle yang berserakan di lantai. Mengingat-ingat letak demi letak, sudut demi sudut.

Ketika orang-orang lain merayakan natal dengan penuh keceriaan, tak tau kenapa aku selalu merasa sedih. Bukan sedih karena kesendirian ataupun kesepian. Buatku natal seperti mengingatkanku pada diri sendiri. Waktu yang benar-benar tepat untuk bercermin dan merefleksikan kejadian-kejadian yang pernah dialami. Baik diperbuat dengan sengaja ataupun dibawa oleh sebuah kebetulan.

Saat natal aku selalu melihat lagi, tahun ini sudah berbuat apa saja. Sudahkah melakukan yang baik? Sudahkan menjadi lebih berarti bagi orang lain? Atau tahun ini sama saja dengan tahun-tahun sebelumnya? Tidak bertambah baik atau bahkan bertambah buruk?

Saat natal aku selalu berhitung dengan Tuhan. Berkat apa yang telah Dia berikan tahun ini kepadaku? Apakah sudah kusyukuri semua berkatnya? Apakah sudah kujalankan semuanya demi namaNya? Atau aku malah telah menyakiti hati kudusNya? Mengotori mulutku dengan menyebut namaNya secara tidak pantas?

Natal adalah sebuah cermin. Di mana aku bisa melihat gambaran diriku lagi secara utuh. Tidak terpotong-potong oleh amarah ataupun keragu-raguan. Di mana saatnya merangkum semua berkat dan menaruhnya di album pujian dan syukur. Di mana dosa dan kesalahan terkubur dalam sakramen tobat. Di mana kelegaan hati menjadi begitu lapang karena dimaafkan kembali.

Natal adalah sebuah teropong. Di mana aku bisa melihat gambaran tempat nanti kumenepi. Di mana arah dan tujuan kembali disusun. Menentukan satu tahun ke depan dengan segala rencana-rencana muluk. Yang mungkin saja akan terlupakan hilang bersama usainya musim penghujan. Di mana harapan terbentang luas kembali. Setelah tampaknya apa yang dicita-citakan tahun ini belum berhasil.

Ah, natal memang mencampurkan sejuta perasaan di hati... Hati yang percaya, yang rindu akan belai kasihNya. Hati si anak hilang yang kemudian lahir kembali...

***

Terima kasih Bapa telah menurunkan Roh KudusMu dan menjadi Firman Tuhan yang hidup. Terima kasih Santa Perawan Maria, Bunda Allah, hamba Tuhan yang selalu menuruti perkataanNya.

Terpujilan Yesus, Maria dan Yosef. Sekarang dan selama-lamanya...

Kol 'am wa antum bkheer, eid ul milad mubarak!


NoteGuestbook
   
respatikasih wrote on Nov 8, '10
oooiiii Happy Birthday Pak, wish you all the best
goodsite wrote on Jul 6, '10
Hallo..udah 2 malam gw download lagu2mu yg super komplet..thanks ya..
marisofia1226 wrote on Apr 14, '10
thankkksssssssss
veramanulife wrote on Feb 23, '10
Saya bekerja di manulife Indonesia boleh dong aku minta waktu untuk presentasi produk-produk asuransi Manulife individu dan Perusahaan untuk karyawan dengan senang hati, saya akan datang.

Manulife Indonesia merupakan anak perusahaan Manulife Financial Corporation (MFC), suatu perusahaan yang didirikan sejaktahun 1887 dan berkantor pusat di Kanada. AJMI sendiri didirikan sejak tahun 1985 dan telah menunjukkan prestasi gemilang selama lebih dari 25 tahun beroperasi di Indonesia

Produk-produknya antara:
Pendidikan untuk anak, Tabungan Jangka Menengah dan Panjang, perlindungan Penghasilan; Perlindungan Kesehatan, Perlindungan Kecelakaan,n Pensiun investasi, dan masih banyak produk-produk lain yang disesuaikan dengan keinginan klien.

O ya asuransi manulife adalah asuransi tradisional, dana pasti yang akan di terima sesuai dengan jangka waktu yang dipilih dan ditetapkan dan perjanjiannya tertulis jelas di Polis Tertanggung.

Hubungi di HP ya..... karena tidak setiap saat online.

Terima kasih.

Vera
PT. Asuransi Jiwa Manulife Indonesia
Hp : 0812.932.6748/ 021-9444.6742.
Email n YM : dahniar_vera@yahoo.com
Blog : veramanulife.multiply.com

seavioletfish wrote on Nov 8, '09
met ulang taun Bro
respatikasih wrote on Nov 8, '09
INCOOOOO...... HAPPY BIRTHDAY Bro, wish you all the best
siregarrosey wrote on Nov 7, '09
Happy Birthday, Inco...wish you all the best....
seavioletfish wrote on Jun 19, '09
salam
tellerusna wrote on Apr 22, '09
Greetings Inco,

Thanks for dropping by for a visit. You are very welcome to stay and rest a spell whenever you are in the neigborhood. Should you be so inclined please feel free to drop me an invite to be a Multiply contact as a Friend.

Thank you and best wishes, Don
yonohapsari wrote on Apr 13, '09
Hey inco, pakabar?
yono eks cabe rawit
shiespiss wrote on Mar 24, '09
tengkyu buat lagu2 Slank-nya, suaranya oke2,..

request album PLUR sama Road to Peace donk.. :-) piss
isengkoe wrote on Mar 2, '09
Sip bos...thq
dalangjemblung wrote on Feb 11, '09
Hai............
mustphar wrote on Feb 9, '09
thanks lagu2nya...
smkn wrote on Jan 16, '09
Hallo om. Salam Kenal. isa minta lagu we want some pussy dari live crew. tks looo
gloriamaries wrote on Dec 31, '08
Met Tahun baru
siregarrosey wrote on Dec 31, '08
Happy New Year
gloriamaries wrote on Dec 26, '08
Met Natal,'Mas...
siregarrosey wrote on Dec 24, '08
Merry Christmas :)
sopang wrote on Dec 15, '08
Mat kenal saudaraku Inco, terima kasih banyak atas kunjunganmu beberapa hari lau di rumahku. Maaf baru hari ini saya buka buku tamuku. Salam selalu dan dioku untukmu !