HomeEpistolaNov 2, 2004
Kudatang,
meradang, dan menang...






































CO.CC:Free Domain' /

VideoRoda-Roda Gila!Jul 9, '08 2:08 PM
for everyone
Rp3000 untuk sebuah permainan berbahaya...


roda_roda_gila.flv (2.1 MB)

Photo AlbumSerunya pasar malam rakyat! (90 photos)Jul 9, '08 12:37 PM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Ternyata seru juga tinggal di perkampungan padat di tengah Jakarta. Selain bisa kesal karena terlalu berisiknya lingkungan sekitar, kita juga bisa mendapatkan sesuatu yang seru seperti pasar malam.

Di saat liburan sekolah ini, ternyata kebahagiaan bukan hanya milik kaum berada. Jika para siswa sekolah elit menghabiskan liburannya dengan berkunjung ke Dinosaur Land, KidZania, Dufan bahkan Singapore, maka anak-anak SD negeri ini bisa menghabiskan liburan dengan bermain di sekitar pasar malam rakyat. Gak perlu modal besar, bahkan dengan melihat-lihat dan berlari-larian cukup sudahlah. Orang tua mereka bukan dari golongan mampu, jadi untuk membeli tiket naik ke sebuah wahana seharga 3000 rupiah tidaklah semua juga bisa menikmatinya.

Dan ketika orang tua mereka berbaik hati memberikan 3000 rupiah untuk naik ke sebuah wahana~entah itu komidi putar atau kincir raksasa~maka kebahagiaan terlihat di wajah-wajah lugu mereka. Inilah potret Jakarta yang sesungguhnya, bahwa Jakarta bukanlah milik segelintir kaum belaka. Karena Jakarta memang untuk semua...

Blog EntrySignsJul 7, '08 6:05 AM
for everyone
Dear God,
Thanks ya udah ngingetin aku lagi...
Di tempat dan waktu yang sama sekali tak terduga.

***

Tadi siang gw ke bengkel motor di Kebon Jeruk. Dimulai dari si pemilik bengkel yang menanyakan gw dari gereja mana setelah melihat sebuah gelang kayu bergambarkan Para Kudus yang gw pakai. Akhirnya terjadilah obrolan panjang. Bang Is, si pemilik bengkel, menceritakan tentang pergulatan dirinya melawan kehendak Tuhan.

Sekitar tahun 2003, Bang Is kehilangan anaknya yang lahir prematur setelah dirawat di rumah sakit selama 87 hari. Bukan hanya pengorbanan tenaga untuk menjaga anaknya selama di rumah sakit setiap hari, siang dan malam, juga biaya yang harus dikeluarkan begitu besar. Lebih dari 240 juta rupiah!

Hutang pinjam dilakoni demi kesembuhan sang anak. Mulai dari hutang sama teman-teman sampai hutang kartu kredit yang nilainya sangat besar. Bahkan Bang Is bercerita, pernah suatu waktu ditolak oleh sebuah apotek untuk menebus obat gara-gara cuma kurang 5000 rupiah saja. Untungnya saat itu ada seorang bapak yang berbaik hati memberikan 5000 untuk kekurangan tersebut.

Bang Is begitu marah dengan Tuhan. Ia merasa Tuhan begitu jahat kepadanya. Kenapa ia yang ditimpakan musibah tersebut. Sampai pada hari ke 76 anaknya di rumah sakit, seorang temannya mengajarkan sebuah doa yang dipakai oleh Bunda Theresa yang diajarkan olehnya kepada seorang ibu yang membawa anaknya yang sakit keras untuk disembuhkan oleh Bunda Theresa. Begini doanya:

"Ya Allah, berilah aku kekuatan lebih untuk dapat menerima apa yang akan terjadi. Apapun itu baik ataupun buruk..."

Secara isi sama persis dengan doa yang Yesus sendiri ucapkan saat sebelum ditangkap di Taman Getsemani.

Kata-Nya: "Ya Abba, ya Bapa, tidak ada yang mustahil bagi-Mu, ambillah cawan ini dari pada-Ku, tetapi janganlah apa yang Aku kehendaki, melainkan apa yang Engkau kehendaki." (Markus 14:36)

Akhirnya setelah Bang Is berdoa demikian, pada hari ke 87 sang anak berpulang ke Rumah Bapa. Bang Is diberikan kekuatan untuk dapat menerima dan melewati itu semua dan akhirnya Tuhan memberikan pengganti seorang anak perempuan yang saat ini telah berusia 3 tahun. Bang Is juga diberikan jalan untuk dapat melunasi hutang-hutangnya. Dan Puji Tuhan sampai hari ini Bang Is telah memiliki 2 bengkel sepeda motor resmi yang cukup laris di mana gw menjadi salah satu pelanggannya.

Hari ini Bang Is memberikan kesaksian tentang besarnya kuasa Tuhan. Tentang pentingnya berpasrah diri dan tak melawan kehendakNya. Hari ini gw diberikan tanda lagi oleh Tuhan melalui Bang Is. Karena apa yang gw alami hari-hari belakangan ini belumlah sebanding dengan apa yang Bang Is alami dahulu. Tapi jika gw tetap berpegang teguh dan tak melawan kehendakNya, niscaya gw akan diberikan kegembiraan di balik semua kedukaan ini. Terima kasih Bang Is, karena tidaklah mudah untuk dapat bercerita sedemikian lepas kepada orang yang baru dikenalnya seperti gw ini. Butuh campur tangan kuasa Roh Kudus untuk dapat berani menyatakan kebesaranNya.

***

Hari ini, sekali lagi Tuhan memberiku tanda.
Bahwa di saat sulit ini Yesus telah memberikan janji kepada ku seperti dalam FirmanNya:

Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. (Matius 11:28)

seperti yang aku dengar kemarin dalam bacaan minggu saat misa di gereja. Bahwa Tuhan bekerja dengan cara yang rahasia. Kita tak akan pernah tau kapan Ia akan mengirimkan malaikat pemberi kabar yang membuat kita bersuka cita. Seperti hari ini Tuhan telah bekerja melalui Bang Is. Mengingatkan dan memberikanku tanda melalui semua ucapannya dan keyakinannya akan besarnya berkat dan kasih karuniaMu.

Sungguh, aku masih dalam bimbinganMu, petunjukMu...
Terima kasih Tuhan atas segalanya...
Terima kasih Ibu atas kasih setiamu...

***

Kemuliaan kepada Bapa dan Putra dan Roh Kudus seperti pada permulaan, sekarang, selalu dan sepanjang segala abad.

Terpujilah nama Yesus, Maria dan Yosef. Sekarang dan selamanya.
Amen.

Blog EntryIbu, tolong akuJul 5, '08 6:40 AM
for everyone
Ada yang salah dengan diri saya.
Di saat semuanya tampak mulai membaik~pekerjaan baru dan skripsi yang hampir rampung~tersisa satu hal yang tak terselesaikan...
Hati ini pecah lagi! Dipukul oleh ego dan kepicikan sendiri...

Walau segalanya dinyatakan sudah selesai, namun saya belum mampu beranjak pergi. Damn! Ayo Inco kamu harus bangun...

Mungkin dia memang bukan untuk saya. Mungkin saya yang terlalu berharap. Mungkin saya yang tak bisa berfikir jernih. Mungkin... Mungkin... Mungkin....

Sedetik saya berusaha terbangun, satu jam saya terperosok kembali.
Semenit saya tersadar, seminggu saya semakin kelam.
Ah... Harapan. Katanya Tuhan selalu memberikan harapan kepada orang yang yakin. Harapan apa? Apakah ini bukannya peringatan dariNya tentang masa depan? Atau mungkin Tuhan sedang melihat kesiapan ladang ini untuk disirami hujan?

Mungkin?
Pasti?
Peringatan?

Ah, energi ini sudah terkuras habis. Jangankan yang positif, negatif pun tampaknya sudah mulai terurai pelan-pelan bersama semua sikap yang saya terima... dan hati ini pun pelan-pelan terbang menjadi bulir-bulir yang ditiup angin...

***

Salam Maria penuh rahmat. Tuhan sertamu
Terpujilah engkau di antara wanita dan terpujilah buah tubuhmu Yesus.
Sancta Maria Bunda Allah. Doakanlah kami yang berdosa ini.
Sekarang dan waktu kami mati.

Ibu, tolong aku.*

*tetesan air mata saat berdoa kepada Sang Ibu.

Photo AlbumLast Day @ TBWA\ (21 photos)Jul 4, '08 10:00 PM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Hari terakhir yang menyenangkan... :-)
I'm gonna miss you buddies!

ReviewReviewReviewKedai Kopi PhoenamJul 4, '08 12:45 PM
for everyone
Category:Restaurants
Cuisine: Other
Location:Sabang, ex Parkit
Pulang dari ikutan Misa Jumat Pertama di Gereja St. Theresia, Anto ngajakin ngopi-ngopi di sebuah kedai kopi kecil di sekitaran Sabang. Kedai Kopi Phoenam namanya. Lokasinya tepat berada di bekas diskotek Parkit di seberang dari Kedai Tiga Nyonya.

Begitu masuk ke tempat tersebut tercium pekat aroma asap rokok dari berbagai macam merek. Kebanyakan rokok keretek. Kedai yang cukup sederhana dengan interior yang sedikit berbau Chinese. Ada lukisan naga dan lampion yang menggantung di langit-langit ruangan. Bagian bar juga terlihat sederhana layaknya rumah makan atau kedai di daerah pecinan.

Setelah gw lihat menu yang cukup tradisional (jangan harap dapat Caramel Macchiato di sini!), gw putuskan untuk memesan secangkir kopi tubruk Phoenam dan seporsi pisang goreng keju. Setelah pesanan gw datang, gw cicipi kopinya... Maknyuuusss!! Kental, hitam pekat dan cukup berat. Dari taste mirip-mirip dengan kopi Jambi. Tapi ternyata mereka menggunakan kopi Toraja sebagai bahan dasarnya. Kopi tubruk mereka cukup nikmat. Gw gak bisa bilang sempurna. Karena gw gak bisa mencicipi espresso di sana (gak ada di daftar menu). Yang dasyat adalah pisang goreng kejunya... gw sampai nambah satu porsi lagi karena porsi yang disajikan cukup kecil tapi kok ya belum puas rasanya lidah ini. Rasanya mirip-mirip pisang goreng pontia. Renyah bertabur keju parut di atasnya... Dasyat!

Overall lumayan lah untuk yang memang merasa dirinya adalah pencinta kopi. Mungkin dengan sedikit perbaikan dan modernisasi, kedai kopi ini bisa saja menyaingi kedai kopi lokal macam Bakoel Koffie. Karena mereka sudah mempunya dasar rasa kopi yang kuat. Gak sembarangan pake kopi biasa. Sayang dengan penuhnya pengunjung dan ventilasi yang tidak bagus maka banyaknya asap rokok cukup menyesakkan dan membuat mata perih. Padahal pintu depan dan belakang kedai terbuka lebar-lebar.

Buat yang suka kopi, tempat ini layak dicoba!


Photo AlbumKedai Kopi Phoenam (10 photos)Jul 4, '08 12:27 PM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Review bisa dilihat di sini

Blog Entry4 years after DISRUPTIONJul 1, '08 1:55 PM
for everyone
Akhirnya, gw meninggalkan juga tempat di mana selama 4 tahun ini gw banyak belajar. 2 Juli adalah hari terakhir gw di DISRUPTION agency, TBWA\. Sedih mesti ninggalin sebuah tempat di mana gw banyak tertawa di dalamnya. Outing gokil-gokilan ke Bali, Futsal bareng, sampe geblek-geblekan jadi bencong di acara kantor.

Kantor ini pernah tau gimana bangsatnya gw dan juga gimana gw sekarang udah berubah jadi anak yang lebih baik. Banyak hal berubah, mulai dari temen-temen yang keluar dan masuk bahkan ruangan kantor yang tadinya kecil dan kini terus bertambah dan berkembang. Namun ada yang tak akan pernah berubah, kecintaan gw terhadap kantor ini. Semua baiknya, juga semua buruknya. Karena tak ada kantor yang sempurna... Namun ketidaksempurnaannya itulah yang bisa membuat gw menjadi manusia yang lebih kuat dan tahan terhadap berbagai macam masalah.

Memang kadang rumput tetangga terlihat lebih hijau. Keinginan untuk pindah mencari rumput yang lebih segar dan hijau selalu datang silih berganti. Tapi kantor ini lebih merupakan tempat bermain yang luas buat gw. Yang di dalamnya buanyak sekali teman-teman yang bisa gw ajak bermain...

Namun ada kala untuk memulai dan ada kala untuk mengakhiri. Kini adalah saatnya akhir status gw sebagai karyawan TBWA\. Tapi mungkin kita masih bisa meneruskan segala canda tawa kita di luar sana. Di tempat bermain yang jauh lebih luas... dunia.

Terima kasih teman-teman. Terima kasih TBWA\.
I'm gonna miss those days...


LinkMultiply MP3 Search | SearchJun 25, '08 11:04 PM
for everyone
Link: http://multiplymp3search.googlepages.com

Cari mp3 di Multiply kini semakin mudah...

Blog EntryMerokok BeretikaJun 4, '08 10:24 PM
for everyone
Di Jakarta makin lama makin susah buat merokok. Kalo dulu bisa di sembarang tempat, kini dengan adanya PERDA DKI Jakarta Nomor 2 Tahun 2005 maka para perokok disediakan tempat khusus untuk merokok. Smoking room istilahnya. Jadi gak bisa sembarangan lagi merokok di tempat umum.

Melihat dari bahaya yang ditimbulkan bagi para perokok pasif, sudah selayaknya kita mendukung PERDA tersebut. Saya sendiri merupakan perokok aktif dan setuju dengan hal tersebut walau terkadang suka merasa kerepotan mencari smoking room di tempat-tempat umum. Tapi sudah selayaknya kita para perokok juga memikirkan orang lain dan masyarakat luas.


Satu hal yang paling saya hindari adalah merokok di dekat ibu hamil dan anak-anak. Buat saya HARAM hukumnya. Cukup saya sendiri yang menanggung akibat buruk dari rokok yang saya hisap. Mereka yang belum pernah merokok sebaiknya tidak pernah memulai. Dengan kita merokok di dekat  ibu hamil dan anak-anak, saya beranggapan bahwa saya telah mengajari janin dan anak-anak untuk merokok. Sunguh memalukan...


Saya gak munafik dengan mengatakan ini berarti saya menentang para perokok. Saya sendiri perokok. Keluarga saya, ibu dan alm ayah saya merokok. Bahkan ayah saya meninggal karena kanker paru-paru yang disebabkan oleh rokok. Saya merasakan sendiri dampak negatif dari rokok. Tapi alangkah semakin buruknya saya jika saya c
uek dan dengan sengaja merokok dekat ibu hamil dan anak-anak... Senang dan enaknya saya yang dapat, buruknya mereka yang dapat!

Tapi yang saya lihat di Jakarta tidaklah demikian. Dari beberapa orang yang saya kenal, mereka masih saja dengan cuek merokok di dekat ibu hamil. Memang sih, ibu hamil itu gak protes... Tapi kok ya tega berbuat seperti itu... apa gak mikir dampaknya buat si janin. Belum lagi jika yang merokok itu perempuan. Apa mereka gak bisa memikirkan bagaimana jika suatu saat nanti mereka hamil dan ada orang yang merokok di dekat mereka... Belum lagi para suami yang dengan cuek dan enaknya merokok dekat istrinya yan
g sedang hamil... keterlaluan! Seorang suami haruslah menjadi contoh yang baik dalam keluarga kan?


Mungkin bagi sebagian orang ini hal yang wajar dan mereka mungkin merasa saya terlalu membesar-besarkan masalah ini. Tapi prinsip saya untuk tidak merokok dekat ibu hamil dan anak-anak adalah HARGA MATI. Biarlah saya menjadi seorang perokok yang beretika. Yang juga bisa menghargai hak-hak orang lain. Termasuk di dalamnya hak hidup sehat bagi seorang manusia yang baru berusia beberapa saat di dalam kandungan...

Photo AlbumEntry Indonesia Bertindak (3 photos)May 31, '08 5:28 AM
for everyone

Blog EntryMental Miskin Orang KayaMay 18, '08 9:34 AM
for everyone

Sebentar lagi harga BBM akan naik. Pro kontra terjadi di mana-mana. Kelompok yang pro menyebutkan bahwa dengan kenaikan tersebut akan memperbaiki kondisi ekonomi secara makro, mengingat harga minyak dunia sudah menembus angka $129 per barelnya dan berdampak kepada semakin melambungnya rupiah yang mesti disubsidi pemerintah untuk masalah BBM ini. Sedangkan yang kontra tentunya lebih memikirkan dampak ekonomi jangka pendek. Di saat krisis harga pangan yang masih terus berlanjut, naiknya harga BBM tentunya akan makin membuat rakyat menderita dengan kenaikan-kenaikan harga barang lainnya yang disebabkan oleh kenaikan harga BBM ini.

Di satu sisi, banyak yang memanfaatkan momen ambang tunggu ini dengan menimbun BBM yang membuat antrean karena berkurangnya pasokan BBM terjadi di mana-mana. Para oknum ini berharap mereka akan mendapatkan keuntungan singkat pada saat harga BBM telah dinaikkan nantinya.

***

Jujur gw adalah orang yang gak terlalu peduli dengan kenaikan harga BBM ini. Gw cuma naik motor dan selalu menggunakan BBM non-subsidi swasta dari perusahaan asing Amerika yang makin lama makin mahal harganya, kini telah Rp10.000/liternya.  Puji Tuhan walaupun gw bukan orang yang berlebih dan gaji gw gak gede-gede amat tapi gw merasa malu untuk membeli BBM dengan harga subsidi. Bukan gengsi, tapi gw merasa masih banyak orang-orang dengan kemampuan minim yang lebih pantas dan berhak untuk mendapatkannya terutama angkutan umum non taksi.

Gw berfikir gw gak akan menjadi miskin hanya dengan membeli BBM non-subsidi setiap dua hari sekali. Tapi yang gw lihat malah sebaliknya, di sekeliling gw banyak teman yang gw anggap lebih mampu dari gw tapi selalu menggunakan BBM bersubsidi dan menjadi khawatir dengan kenaikan harganya nanti. Di SPBU Pertamina saja gw lihat mobil-mobil eropa keluaran terbaru ikut-ikutan mengantri mengisi BBM bersubsidi. Padahal mampu membeli mobil mewah harusnya juga mampu membeli BBM non-subsidi. Menjadikan mereka sebagai orang-orang kaya yang bermental miskin. Lebih baik menerima daripada memberi!

Ternyata mental miskin orang kaya ini juga terjadi pada hal-hal lain. Lihat saja di berbagai pertokoan banyak orang-orang kaya yang sibuk memilih-milih film DVD bajakan. Gw juga menjadi bagian dari hal ini. Dengan tenangnya dan tanpa merasa berdosa ikutan membeli produk bajakan secara terang-terangan.

Belum lagi gw melihat seorang bule dengan nyamannya menenteng dua plastik besar yang berisi game-game X-Box bajakan di sebuah pertokoan. Senang sekali tampaknya mereka, gaji ekspat tapi kok belanja dengan harga bajakan!

***

Untuk hal DVD buat gw ada sedikit pengecualian (bukan pembenaran). DVD bukan barang pokok. Boleh ada boleh nggak. Toh cuma hiburan dan kalo mau nonton yang lebih enak tinggal ke 21 cineplex yang saat ini makin murah harganya (thanks to Blitz!). Lain halnya dengan BBM yang merupakan hajat hidup orang banyak. Sudah saatnya membangun sebuah mental kaya orang kaya. Merasa malu telah merampas jatah rakyat kecil.

Pemerintah juga harusnya membuat sebuah sistem subsidi yang lebih jelas. Jadi subsidi tetap diperlukan untuk rakyat kecil dan tak boleh diselewengkan oleh orang-orang kaya. Atau jika bisa menggunakan BBM alternative yang tidak tergantung dari harga minyak dunia. Seperti sistem konversi dari minyak tanah menjadi LPG yang saat ini sudah bisa dirasakan manfaatnya oleh banyak rakyat kecil.


LinkUt Omnes Unum SintMay 10, '08 11:31 PM
for everyone
Link: http://ourunity.blogspot.com

Semoga Mereka Menjadi Satu. Blog ini didedikasikan buat upaya-upaya terjadinya Persatuan Gereja antara Roma Katolik, Orthodox dan Protestan. Marilah kita berdoa kepada Allah Tritunggal dan Bunda Theotokos agar Tanggal Paskah antara Katolik dan Orthodox menjadi sama.

Category:Movies
Genre: Other

SELAYANG PANDANG KRISTEN KOPTIK
DALAM NOVEL DAN FILM "AYAT-AYAT CINTA

Oleh: Bambang Noorsena, SH, MA *


1. Catatan Pengantar

Fenomena sukses film "Ayat-ayat Cinta", arahan Hanung Brahmantyo ini adalah menarik untuk dicermati. Film layar lebar yang diangkat dari novel karya Habiburrahman el-Shirazy ini [1] dalam waktu singkat telah berhasil meraup pemirsa lebih dari 3 juta orang di seluruh tanah air. Ada yang menonton ka­rena memang lebih dahulu sudah menbaca novelnya, ada pula yang hanya “sekedar ingin tahu", karena penyam­butan film ini yang cukup luas. Bukan hanya Dr. Din Syamsudin, Ketua PP Muhammadiyah, akan tetapi juga melibatkan Presiden SBY, Wakil Presiden Jusuf Kala, yang memberikan sambutan antusias.

Ada yang memuji, ada pula yang menanggapi biasa-biasa saja. Ada apa di balik novel dan film ini? Beberapa orang berkomentar, “ini iklan poligami”, “referensi baru buat pemilik rumah makan Wong Solo", tetapi ada pula yang serius mencermati kaitan film dan novel ini dengan hubungan Kristen-Islam di Mesir. Artikel singkat ini, mungkin tergolong yang terakhir, kebetulan tokoh Maria Girgis, yang digambarkan berasal dari keluarga Kristen Koptik, Gereja pribumi di Mesir, sebagai Gereja Ortodoks terbesar di dunia Arab. Sebagai seorang pengamat Gereja-gereja Timur, kenyataannya saya menemukan beberapa kejanggalan mengenai tradisi Kristen Koptik, yang digambarkan "secara sambil lari" dalam film ini.

2. Sekilas Film "Ayat-ayat Cinta"

Sebelum memberi beberapa catatan terhadap novel dan film ini, bagi yang tidak membaca novel atau menonton film ini, akan disarikan cerita yang diangkat oleh novelis muda lulusan Universitas Al-Azhar, Cairo, ini :

Dikisahkan, Maria Girgis (Carissa Putri), putri Tuan Butros dan Maddame Nafed [2] bertetangga flat (apartemen) dengan Fahri, mahasiswa Indonesia yang kuliah di Universitas al-Azhar. Maria, terlahir dari kelu­arga Kristen Koptik, digambarkan mengagumi Al-­Qur'an, karena ayat-ayatnya yang dilantunkan indah, bersimpati pada Fahri. Simpati yang akhirnya berubah menjadi cinta. Sayang sekali, Maria tidak pernah mengu­tarakan perasaan hatinya. Ia hanya menuangkannya dalam diary saja.

Selain Maria, ada juga Nurul (diperankan Melanie Putri), mahasiswi asal Indonesia, anak seorang kyai yang cukup kesohor, yang juga menimba ilmu di Al-­Azhar. Sebenarnya Fahri menaruh hati kepadanya, tetapi sayang rasa cinta itu dihalangi oleh perasaan mindernya, karena Fahri hanya anak seorang petani. Cinta yang akhirnya tak terucapkan. Ada juga tetangga yang selalu disiksa "ayahnya", dan Fahri ingin menolongnya, tetapi justru itulah yang menjadi awal bencana baginya. Fahri harus beberapa saat mendekam di penjara, karena tu­duhan fitnah telah memperkosanya. Saat badai fitnah menimpa, saat itu Fahri sudah menikah dengan Aisha, gadis Turki yang menjadi warga Negara Jerman. Pen­dekatan diplomatik Indonesia buntu, gagal membebas­kan Fahri.

Tetapi berkat kewarganegaraan Jerman yang dimiliki Aisha, pengadilan Mesir melunak. Fahri bebas, setelah dibuktikan bahwa tuduhan itu fitnah belaka. Sebenarnya Fahri hanya difitnah, kesaksian Noura palsu karena dinyatakan di bawah tekanan Bahadur, "ayah"­nya. Padahal Bahadur, yang ternyata bukan ayah kan­dungnya, justru dialah yang memerkosanya, dan ingin menjualnya menjadi seorang pelacur. Sementara itu, Ma­ria sedang sakit, karena tekanan batin yang dideritanya karena Fahri telah menemukan “sungai Nil"-nya, dan dia ternyata bukan dirinya. Tetapi berkat kegigihan Aisha, istri Fahri, Maria berhasil dihadirkan ke pengadilan. Ke­datangannya menolong Fahri, karena ia menjadi saksi ketika Fahri dan Nurul menyembunyikan Noura di ru­mah Nurul, demi menyelamatkan Noura dari amukan Bahadur.

Justru Aisha sendiri, yang ketika Maria terbaring sakit, membaca diary-nya. Ternyata Maria memendam rindu kepada Fahri, cinta yang dibawanya sampai ia ter­baring sakit. Aisha terharu. Ia akhirnya bersedia "mem­bagi cinta" dengan Maria. Suaminya justru disuruh mengawini Maria, karena itulah satu-satunya obat bagi kesembuhannya. Fahri dan Maria pun kawin atas res­tunya. Madamme Girgis, ibu Maria, sangat berterima kasih dengan pengorbanan Aisha. Madamme Girgis me­meluk erat Aisha, ketika wanita keturunan Turki itu menghindar dari akad nikah yang sedang diselenggarakan antara Fahri dan Maria yang sedang berbaring sakit, karena tidak bisa menahan gejolak jiwanya. Beberapa menit terakhir film ini diisi dengan adegan kebersamaan antara Fahri dengan kedua istrinya. Ada cemburu antara kedua istri Fahri, tetapi keduanya berusaha keras "menjaga hati". Sementara Fahri mempergumulkan makna keadilan bagi kedua istrinya. Aisha sedang hamil tua dan menunggu kelahiran bayinya, sementara Maria kembali jatuh sakit. "Ajarilah aku shalat", ucap Maria kepada Fahri, "karena aku ingin shalat bersama kalian". Fahri dan Aisha terkejut luar biasa. Dan dalam keadaan terbaring Maria shalat bersama Fahri dan Aisha, dan gadis Kristen Koptik itu mengehembuskan nafas terakhirnya sebagai seorang muslimah.

3. Tradisi Kristen Koptik di Mesir - Selayang Pandang

Gereja Ortodoks Koptik adalah gereja pribumi Mesir. Gereja ini lahir sejak awal sejarah Kekristenan, diawali dari kedatangan Rasul Markus, murid Rasul Pe­trus sekaligus penerjemahnya, yang juga dikenal sebagai penulis Injil Markus [3]. Markus mati syahid di Alexandria tahun 54 M, dan sejak saat itu Kekristenan berkembang pesat di "Negeri Firaun" itu.

Berbeda dengan gereja-gereja di wilayah Arab utara, khususnya Gereja Ortodoks Syria, yang sejak sebe­lum zaman Islam sudah menggunakan bahasa Arab, terbukti dari temuan-temua prasasti pra-Islam di wilayah Syria (Inskripsi Zabad tahun 512 M, Inskripsi Ummul Jimmal para abad VI M, dan inskripsi Hurran al-Lajja tahun 568 M), Gereja Koptik mula-mula memakai bahasa Koptik. Tetapi setelah kedatangan Islam, Gereja Koptik di Mesir mulai memakai bahasa Arab, berdam­pingan dengan bahasa Koptik. Bahasa Koptik adalah bahasa zaman Firaun yang aksara-aksaranya diperbarui dengan meminjam aksara Yunani.

Perlu dicatat pula, di seluruh gereja Timur, termasuk Gereja Ortodoks Koptik, masih dilestarikan ta­ta-cara ibadah dalam penghayatan budaya Kristen mula­-mula. Misalnya: Shalat Tujuh Waktu (Sab'ush shala­wat)[4], Shaum al-Kabir (Puasa Besar) pra-Paskah, selama minimal 40 hari, [5] membaca Injil dengan cara dilantunkan secara tartil (dikenal dengan Mulahan Injil- yang para­lel dengan Tilawat al-Qur'an, dan masih banyak lagi. Anda bisa menyaksikan seorang pemuda yang komat­-kamit membaca Kitab di tangannya sewaktu naik bus, atau kendaraan lain di Mesir. Siapakah mereka? Ternyata bukan hanya pemuda Islam yang membaca al-Qur'an, tetapi juga pemuda-pemuda Koptik dengan tatto Salib [6] di tangan sedang membaca kitab Agabea. Itulah Kitab Shalat Tujuh waktu, yang tidak pernah mereka alpakan, juga ketika mereka sedang berkendara di jalan, sepulang kantor, atau berangkat ke kampus.

Informasi terakhir, meskipun orang Muslim atau orang Kristen di Mesir sama-sama berbahasa Arab, tetapi antara keduanya tetap bisa dibedakan. Idiom-­idiom keagamaan mereka berbeda, tetapi juga tidak ja­rang pula sama atau paralel. Di koran-koran berbahasa Arab, ucapan bela sungkawa orang Kristen biasanya di­awali ungkapan : Intiqala ila Amjadis samawat (Telah berpulang kepada Kemuliaan Surgawi), cukup mudah dibedakan dengan kaum Muslim: Inna Iillahi wa Inna Ilayhi Raji’un (Sesungguhnya semua karena Allah dan kepada-Nya pula semua akan kembali). Tapi ada banyak persamaan tradisi, misalnya: pertunangan, perkawinan, kematian, dan masih banyak lagi.

4. Resensi atas Novel dan Film "Ayat-ayat Cinta"

Kalau tidak berpretensi bisa atau mampu dalam meresensi sebuah novel apalagi sebuah film. Saya hanya ingin memberi beberapa catatan atas beberapa tradisi Mesir pada umumnya, dan tradisi Kristen Koptik di Mesir khususnya, yang kadang-kadang kurang tepat di­sampaikan dalam film ini:

4.1. Adat-Istiadat, Bahasa dan Budaya

Beberapa tokoh dalam film ini gagal memerankan tokoh orang Mesir. Madamme Nafed (Marini), mamanya Maria, kala mengucapkan kata: "bisyur'ah" (cepat !), tampak kurang ekspresif. Alangkah lebih "Egypt" nu­ansanya, bila ia berkata dengan penekanan: "Yala, yala, bisyur'ah, Ya Maria!", misalnya. Begitu juga, sebagai sosok gadis Mesir, Maria yang diperankan Carissa Putri, rasanya terlalu calm dan "melankolis". Ketika ia mengucapkan "Afwan" (terima kasih kembali), menja­wab kata-kata Fahri ketika menerima kiriman juice mangga yang dikirim Maria melalui tariakn keranjang kecil dari jendela kamarnya: “Musyakirin awi’ala ashir Manggo" (Terima kasih banyak atas juice mangga) [7]. Lebih ekspresif, seandainya Maria mengatakan: "Afwan Ya Habibi!".

Malahan dalam suatu pesta perkawinan yang digambarkan dalam film tersebut, tidak ada bunyi ja­greed (suatu bunyi siulan ibu-ibu yang menandai pe­nyambutan acara-acara kegembiraan mereka). Yang juga tidak kalah penting untuk dicermati, dialek Arab tokoh Maria ketika bertanya : Qamus 'Arabi?, diucapkan dalam dialek terlalu "Saudi Arabia": Qomus ‘Arabi? Saya kira ini salah satu kekhasan mahasiswa Islam asal In­donesia, karena ketika belajar bahasa Arab di pesantren, lebih mirip dialek Saudi Arabia yang memang lebih "fushah" (klasik). Tetapi tidak demikian dengan dialek Mesir, mereka tidak mengucapkan: Subhro, Mubarok, Rohmat, melainkan: Subhra, Mubarak, Rahmat, dan sebagainya.

Begitu juga, ungkapan salah seorang Mesir ketika melerai pertengkaran: "Khalash! Khalash!" (sudah, sudah!), lebih "Mesir" lagi kalau diucapkan: "Khalash, khalash ba'ah!". Begitu juga, biasanya seorang Mesir mengucapkan kara "La, la, la" (tidak, tidak, tidak!), sambil dengan jari terlunjuk bergerak-gerak, dan bibir berdecak. Ucapan "ahlan", biasanya diucap­kan berkali-kali : "Ahlan, ahlan, ahlan..." Yang lebih mengganjal lagi, dalam salah satu percakapan, seorang tokoh mengucapkan dialek Mesir bercampur dengan bahasa Arab klasik: Asyan Ana bahibaki awi (Karena saya sangat mencintaimu), mestinya: Asyan Ana bahibik awi. Asyan adalah ucapan cepat dari alashan, sedangkan Ana Bahibak, Ana bahibik, dalam bentuk klasiknya: Ana uhibuka, Ana uhibuki.

Lokasi syuting yang memang tidak dibuat di Mesir, membuat pemirsa tidak bisa secara utuh meng­ikuti dan membayangkan "suasana Mesir". Mulai ru­mah-rumah warga kelas menengah ke atas, lengkap dengan mashrabiya-nya [8], jalan-jalan kota lama Cairo yang macet, tidak terkecuali Midan Tahrir dengan wa­rung-warung Asher (juice) segarnya.. Malahan dalam suatu pesta perkawinan yang digambarkan dalam film tersebut, tidak ada bunyi jagreed (suatu bunyi siulan ibu-­ibu yang menandai penyambutan acara-acara kegembi­raan mereka). Masih banyak adat kebiasaan lain, yang dalam film ini tidak berhasil ditonjolkan dengan baik, se­hingga ber-"suasana Indonesia dan India", ketimbang ber-"suasana Mesir", dan negara-negara Arab di Timur Tengah pada umumnya.

4.1. Tradisi Kristen Koptik

Ada kesan kuat saya, bahwa penulis novel ini, sekalipun lama tinggal di Mesir, tidak mengetahui budaya dan tradisi Kristen Koptik. Misalnya, penggambaran Maria yang tertarik dengan Al-Qur'an karena ayat-ayat­nya di-"tilawat"-kan dengan indah. Padahal tradisi untuk membaca Kitab Suci dengan tartil bukan hanya tradisi Islam, melainkan tradisi Timur Tengah (baik Yahudi maupun Kristen Timur) jauh sebelum lahirnya Islam. Sampai hari ini, gereja-gereja Timur (baik Gereja-gereja Ortodoks maupun Katolik ritus Timur) membaca Kitab Suci yang tidak jauh berbeda.

Simbol salib hanya ditonjolkan untuk mengisi latar belakang Koptik keluarga Maria, tetapi tradisi Koptik sama sekali tidak dipahaminya. Misalnya; Madamme Girgis digambarkan berdoa dengan melihat ke­dua tangan, padahal orang-orang Kristen di Timur Tengah berdoa dengan cara menengadahkan tangan, sama dengan Islam. Bedanya, dalam Islam diawali dengan ru­musan Basmalah: Bismillahi rahmani rahim (Dengan Nama Allah Yang Pengasih dan Penyayang), sedangkan dalam Kristen dengan membuat tanda salib dan berkata: Bismil Abi wal Ibni wa Ruhil Quddus al-Ilahu Wahid, Amin (Dengan Nama Bapa, Putra dan Roh Kudus. Allah Yang Maha Esa, Amin).

Masih ada hal yang sangat menganggu, yaitu tattoo Salib di tangan Maria terbalik, dan terlalu besar ukurannya. Dan terakhir, permintaan Maria kepada Fahri ketika ia terbaring sakit: "Ajarilah aku shalat!", mestinya lebih baik diperjelas : "Ajarilah aku shalat secara Islam!". Mengapa ? Sebab kata "shalat" saja, di Mesir dan di negara-negara Arab yang di dalamnya umat Islam dan Kristen hidup bersama-sama, bukan merupakan terma eksklusif Islami. Jadi berbeda dengan negara-negara Muslim non-Arab.

Orang-orang Kristen Koptik juga mengenal­ waktu-waktu shalat yang tujuh kali sehari. Waktunya sama dengan shalat Islam, ditambah dengan "shalat jam ketiga" (kira-kira jam 09.00 pagi, untuk memperingati turunnya Roh Kudus, Kis. 2:15), dan jam 24.00 tengah malam, yang dikenal dengan, shalat Nishfu Lail (tengah-malam). Lima waktu shalat selebihnya untuk mengenal Thariq al-Afam (Via Dolorosa) atau jam-jam sengsara Kristus.

Lebih jelasnya, kala shalat, jauh sebelum zaman Islam kata ini sudah dipakai dalam bentuk Aram tselota. Menariknya, waktu-waktunya memang sama dengan Islam (Subuh, Dhuhr, ‘Asyar, Maghrib dan Isya), dan dua sisanya sejajar dengan salat sunnah Dhuha’ dan Tahajjud. Meskipun demikian, istilah, untuk waktu-­waktu salat tersebut berbeda, dan waktu-waktu doa ini mempunyai makna teologis terkait dengan jam-jam sengsara Yesus Kristus (Thariq al-Afam) sebagai berikut:

1. "Salat jam pertama" (Shalat as Sa’at al-Awwal), kira-kira jam 06.00 pagi waktu kita, untuk mengenang saat kebangkitan Kristus Isa Al-Masih) dari antara orang mati (Mrk.16:2).

2. "Salat jam ketiga" (Shalat as-Sa'at ats-Tsalitsah), kira-kira jam 9 pagi, yaitu waktu pengadilan Kristus dan turunnya Roh Kudus (Mrk. 15:25; Kis. 2:15).

3. "Salat jam keenam" (Shalat as-Sa'at as-Sadi-sah), kira-kira jam 12 siang, yaitu waktu penyaliban Kristus (Mrk. 15:33, Kis. 3:30).

4. “Salat jam kesembilan” (Shalat as-Sa’at at Tasi’ah­), kira-kira jam 3 petang, untuk mengenang kematian Kristus (Mrk. 15:33,38; Kis. 3:1);

5. "Salat Terbenamnya Matahari" (Shalat al-Ghurub), yaitu waktu penguburan jasad Kristus (Mrk.15:42).

6. "Salat waktu tidur" (Shalat ai-Naum), untuk mengenang terbaringnya tubuh Kristus;

dan;

7. "Salat Tengah Malam" (Shalat as-Satar atau Shalat Nishfu al-Layl) adalah jam

berjaga-jaga akan kedatangan Kristus (Isa Al-Masih) yang kedua kalinya (Why. 3:3)[9].

Salat Tujuh waktu (As-Sab'u Shalawat) ini, sama sekali tidak ada hubungannya dengan Islam. Me­ngapa? Karena praktek doa ini, khususnya seperti yang dipelihara di biara-biara, sudah ada jauh sebelum zaman Islam. "Kanonisasi (waktu-waktu) salat" (Shalat al­-Fardhiyah), sudah mulai dilakukan dalam sebuah doku­men gereja kuno berjudul Al-Dasquliyyat atau Ta'alim ar-Rusul yang editing terdininya dikerjakan oleh St.Hypolitus pada tahun 215 M. [10]

5. Novel Religi, Film Dakwah: Bukan Film Cinta Biasa

Seperti komentar banyak tokoh dalam novel “Ayat-ayat Cinta”, memang hasil karya Habiburrahman el-Shirazy ini bukan sekedar novel cinta biasa, melainkan novel cinta, religi, figh, politik yang sarat dengan pesan-­pesan keagamaan. Novel ini ingin menghadirkan Islam secara damai, multi-kultural, sarat sentuhan nilai cinta kasih, dan jauh dari gambaran kekerasan yang selama ini sering di-stigmakan oleh orang Barat.

Meskipun demikian, novel ini juga sarat terhadap apologetika untuk membela Islam. Semangat dakwah yang berkobar-kobar perlu diacungi jempol, tetapi ter­kadang "kelewat batas". Misalnya, dalam Bab 33: "Nya­nyian dari Surga" (tetapi bagian ini untungnya tidak divisualisasikan dalam film), Maria bertemu dengan Bunda Maria, Ibunda Isa Al-Masih dalam mimpinya ketika terbaring sakit. Di Bab Ar-Rahmah (pintu Rah­mat), Bunda Kristus itu, menampakkan diri begitu ang­gun dan luar biasa. "Dia (Allah) mendengar haru biru tangismu", kata Bunda Maria, "Apa maumu?". "Aku ingin masuk surga. Bolehkah?", tanya Maria sambil menangis.

"Boleh", jawab Bunda Maria. "Memang surga diperuntukkan untuk semua hamba-Nya. Tapi kau harus tahu kuncinya". "Apa kuncinya?", tanya Maria. "Nabi pilihan Muhammad Saw telah mengajarkannya berulang-ulang. Apakah kau tidak mengetahuinya?", tegas Bunda Maria. "Aku tidak mengikuti ajarannya", kata Maria. "Itu salahmu!", kata Bunda Maria lagi. Lalu dijelaskan bahwa jalan. ke surga itu harus lewat Islam.

"Maria, dengarlah baik-baik!", kata Bunda Kristus kepadanya. "Nabi Muhammad sudah mengajarkan kunci untuk masuk surga, "Barangsiapa berwudhu dengan baik lalu mengucapkan: Asyhadu ‘an La ilaha illallah wa asyhadu anna Muhamadan ‘abduhu wa rasuluh (Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah Hamba-Nya dan Rasul-Nya), maka akan dibukakan delapan pintu surga untuknya dan ia boleh masuk yang mana ia suka." Maria akhirnya masuk Islam, mengucapkan syahadat dan me­laksanakan shalat sebelum ajal menjemputnya. Inilah "ending" novel dakwah ini.

6. Catatan Reflektif

Catatan reflektif saya, untuk mengakhiri artikel singkat ini, sedikit saja. Setiap orang bebas untuk me­nyatakan keyakinannya. Termasuk keyakinan bahwa sur­ga itu hanya "hak orang-orang Muslim". Kalau anda tertarik dengan tawaran ini, silakan saja. Bebas dan tidak ada yang melarang. Tetapi pernahkah anda berpikir, apa­kah orang lain yang berkeyakinan berbeda bebas juga mengutarakan keyakinannya ? Seperti keyakinan bahwa Bunda Maria, tokoh paling suci dalam Kekristenan sete­lah Yesus Kristus, telah menunjuk bahwa jalan ke surga harus melalui Muhammad.

Bolehkah orang Kristiani, yang mempercayai bahwa Yesus adalah Jalan dan Kebenaran dan Hidup, dan tidak seorangpun yang sampai kepada Bapa kecuali melalui Kristus (Yoh. 14:6), meminjam "lisan Nabi Muhammad" untuk mengajar keyakinan itu ? Moga-­moga anda membolehkannya, seperti kami tidak men-­demo ketika "Ayat-ayat Cinta" meminjam "mulut suci Bunda Maria" untuk dakwah agama Islam. Kalau begini, mengapa harus marah kepada Ahmadiyah ? Sebaliknya, mengapa harus mengelu-elukan "Injil Yudas", dan "The Da Vinci Code", tanpa mempertimbangkan pera­saan orang lain yang tidak menyetujuinya ? Katakanlah, "berjuta-juta orang Kristen yang tersakiti perasaannya" karena publikasi novel dan film itu ?"

Padahal film ini akan lebih mendidik lagi, kalau misalnya diungkap juga fakta keberdampingan harmonis kehidupan umat Kristen dan umat Islam di negeri yang oleh Ibnu Khaldun dijuluki "lbunda Dunia" ini. Mi­salnya, tenda-tenda Ma’idah ar-Rahman (Jamuan Sang Pengasih), yaitu jamuan makan gratis yang dibuka di jaan-jalan kota Kairo, yang di beberapa wilayah Koptik, seperti Subhra, misalnya, selalu dibuka oleh uskup Gereja Ortodoks Koptik sebagai simbol persatuan nasi­anal (Wihdat al- Wathani). Begitu juga, kehadiran Syeikh Al-Azhar, Dr. Muhammad Tanthawi, pada acara ‘Idul Milad (Natal) di Katedral Al-Qidis Marqus, Abbasiya. Tradisi saling mengucapkan selamat hari raya, baik hari-hari raya Islam maupun hari-hari raya Kristen, juga menjadi kebiasaan yang patut dijadikan referensi di negara-negara mayoritas Muslim non-Arab, seperti Afga­nistan, Pakistan, dan Indonesia akhir-akhir ini, yang terkadang "lebih Arab ketimbang negara-negara Arab sendiri" [11].

Dan akhirnya, berbarengan dengan perasaan sedih dan menyayangkan peredaran film "The Fitna", saya yang terus menerus mencoba memahami sukacita anda menyambut film "ayat-ayat Cinta", izinkanlah saya mengucapkan : Mabruk, (Selamat!) atas prestasi dan sukses film ini. Ini bukan basa-basi. Karena sekalipun ada yang tidak saya setujui isinya, tapi hati saya turut merasakan gembira bila anda bergembira.

*) Bambang Noorsena adalah pendiri Institute for Syriac Christian Studies (ISCS), alumnus Kajian Perbandingan Agama pada Dar Comboni Institute, Cairo, Mesir.

7. Lampiran Novel Ayat-ayat Cinta

Hal. 400 - HABIBURRAHMAN EL SHIRAZY

Yang kuhafal, adalah surat Maryam yang tertera di dalam Al-Quran. Dengan mengharu biru aku membacanya penuh penghayatan.

"Selesai membaca surat Maryam aku lanjutkan surat Thaha. Sampai ayat sembilan puluh sembilan aku berhenti karenaa Babur Rahmah terbuka perlahan. Seorang perempuan yang luar biasa anggun dan sucinya keluar mendekatiku dan berkata, “Aku Maryam”. Yang baru saja kausebut dalam ayat-ayat suci yang kau baca. Aku diutus oleh Allah untuk menemuimu. Dia mendengar haru biru tangismu. Apa maumu ? Aku ingin masuk surga. Bolehkah? “Boleh”. Surga memang diperuntukkan bagi semua hamba­Nya: Tapi kau harus tahu kuncinya?' Apa itu kuncinya ?

'Nabi pilihan Muhammad Saw. telah mengajarkannya berulang-ulang. Apakah kau tidak mengetahuinya?' Aku tidak mengikuti ajarannya.' Itulah salahmu.'

Kau tidak akan mendapatkan kunci itu selama kau tidak mau tunduk penuh ikhlas mengikuti ajaran Nabi yang paling dikasihi Allah ini. Aku sebenarnya datang untuk memberitahukan kepadamu kunci masuk surga. Tapi karena kau sudah menjaga jarak dengan Muhammad Saw, maka aku tidak diperkenankan untuk memberitahukan padamu.

Bunda Maryam lalu membalikkan badan dan hendak pergi. Aku langsung menubruknya dan bersimpuh di kakinya. Aku menangis tersedu-sedu. Memohon agar diberitahu kunci surga itu. Aku hidup untuk mencari kerelaan Tuhan. Aku ingin masuk surga hidup bersama orang-orang yang beruntung. Aku akan melakukan apa saja, asal masuk surga. Bunda Maryam, tolonglah aku. Berilah aku kunci itu! Aku tidak mau pergi selama-lama­nya. Aku terus menangis sambil menyebut-nyebut nama Allah.



[1] Habiburrahman EI Shirazy, Ayat-ayat Cinta : Sebuah Novel Pembangun Jiwa. Edisi Revisi (Jakarta: Basmala dan Harian Republika.2006).

[2] Nama Girgis (arabisasi dari nama George, seorang santo atau al-qidis, yang sangat popuJer di Gereja-gereja orthodoks), Butros (arabisasi dari Petrus) dan nama-nama dalam bahasa Yunani, Ibrani atau Koptik, orang-orang Kristen Arab bisa juga memakai nama-nama Arab sebelum dan sesudah Islam. Biasanya, nama-nama Kristen Arab misalnya: Abdul Masih (Hamba Kristus), Abdul Fadi (Hamba Sang Penebus), cukup mudah dibedakan dengan nama-nama Arab Muslim: Abdul Aziz, Ramadhan, Mahmud, Ahmad, Ashraf dan sebagainya. Tetapi nama-nama seperti Abdullah (Hamba Allah), Ibrahim, Ishak, Mukmin, dan masih banyak lagi, adalah nama-nama netral yang dipakai baik orang Kristen maupun Islam

[3] Irish Habib al-Masri, Qishah Al-Kanisah al-Qibthiyyah. Jilid I (Cairo: Maktabah al-Mahabbah, 2003), hlm. 20-33. Lihat juga: A. Wessels, Arab and Christian? Christian in the Middle East (Kampen: Kok Pharos Publishing House, 1995), him. 126.


[4] 4Lihat panduan Shalat dalam Gereja Orthodoks Koptik: A/-Ajabiyya: As-Sab'u Sha/awot An-Nahtriyyah wa Lailiyyat (Cairo: Maktabah al-Mahabbah, 2001).


[5] 5AI-Qush Yoanis Kamal, Tartib UshbO' A/-A/om (Oar al-Jilli ath-Thaba'ah,2001).


[6] Munculnya tradisi tattoo salib di tangan, pertama kali berasal dari masa penganiayaan. Tanda itu menjadi semacam kode sesama umat Kristen demi keselamatan mereka dari para penganiaya mereka. Karena Gereja Koptik Mesir pada zaman Romawi menjadi gereja yang teraniaya, maka tarikh Koptik yang ditandai dengan peredaran bintang Siriuz, disebut dengan Tahun Kesyahidan (Anno Martyri), yang tidak termasuk tahun syamsiah (matahari) ataupun qamariyah (bulan), tetapi disebut tahun kawakibiyah (tahun bintang).

[7] Kata "musyakirin awi ala ..." (Terima kasih banyak atas...) adalah dialek khas Mesir, kata "awi" asalnya dari: "qa­wwi" (besar), dalam bahasa Arab klasik: "Syukran 'ala... " (terima kasih atas...), atau "Alfu syukran 'ala ..." (beribu terima kasih atas...)

[8] Mashrabia adalah jendela kecil yang terbuat dari kayu dan dihias dengan ukiran halus, biasanya digunakan oleh anak-anak gadis orang kaya untuk mengintip keluar tetapi orang tidak bisa melihat ke dalam.


[9] Fakta bahwa seluruh gereja-gereja di Timur, baik Ortodoks maupun Katolik ritus Timur. melaksanakan salat tujuh waktu baik sebelum maupun sesudah Islam dengan jelas dicatat Aziz S. Atiya, History of Eastern Christianity (Nostre Dome. Indiana: University of Nostre Dame Press, Lt.). Demikialah catalan Aziz S. Atiya mengenai pelestarian ibadah ini pada tiap-tiap Gereja: Orthodoks Koptik: "These seven hours consisted of the Morning prayer, Terce, Sext, None, Vespers, Compline and the Midnight prayer..." (hlm. 128). Mengenai Gereja Orthodoks Syria, "...keep usual hours from Matins to Compline, with they describe as the 'protection prayer' (Suttara) before retiring" (hlm. 124). Se­dangkan Gereja Maronit di Lebanon: "Seven in number., they are the Night Office, Matins, Third, Sixth and Nine Hours, Verpers and Compline" (hlm. 414). Lebih lanjut. mengenai Shalat Tujuh Waktu ini dalam bahasa Arab. lihat: Mar Ignatius Afram al-Awwal Borshaum (ed.), Al-Tuhfat al-Ruhiyyahi fi ash-Shalat al-Fardhiyyah (Aleppo. Suriah: Dar al-Raha Ii an-Nasyr. 1990).

[10] Marqus Dawud (ed.), Al-Dasquliyyah, ar Ta'alim ar­ Rusul (Cairo: Maktabah al-Mahabbah, 2003), Bab: Auqat Shalawat (Waktu-waktu Salat), hlm. 171-172.


[11] Lih. Artikel saya: Bambang Noorsena, "Ramadhan di Cairo", di Surabaya Post, 20 Agustus 2004, yang dimuat kembali di www.iscs.id

Sumber : Acara Forum Fokus di Gedung Kasih Bersaudara - Lt.4, Awal April 2008

Blog EntryAh akhirnya...May 5, '08 4:45 PM
for everyone
setelah sekian lama... akhirnya pulang pagi lagi...
tak tau apa yang orang-orang agency cari
selalu mencoba berpacu dengan waktu...

lelah, sungguh lelah...
namun belum tampak batu untuk kupijak berikutnya...


Blog EntryDenominasi KristenApr 30, '08 4:34 AM
for everyone

Dari Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia.


Dalam pengertian Kristen, Denominasi adalah suatu kelompok keagamaan yang dapat diidentifikasikan di bawah satu nama, struktur, dan/atau doktrin

Daftar isi

Denominasi

Di masa modern, agama Kristen diungkapkan dalam berbagai nama. Kelompok-kelompok dengan nama yang berbeda-beda ini: Lutheran, Anglikan, Presbyterian, Katolik, dll. biasanya disebut sebagai denominasi.

Denominasionalisme adalah sebuah ideologi, yang menganggap sejumlah atau semua kelompok Kristen sebagai versi-versi dari suatu kelompok yang sama, tak peduli dengan label-label yang membedakan mereka. Namun tidak semua denominasi mengajarkan hal ini, dan ada sejumlah kelompok yang menganggap semua kelompok yang berbeda dengannya sebagai murtad atau sesat: artinya, bukan versi yang sah dari agama Kristen.

Ada sejumlah denominasi atau kelompok semi-Kristen di masa lalu yang tidak ada lagi sekarang. Misalnya kaum Gnostik (yang percaya akan dualisme esoterik), kaum Ebionit (yang menyembah saudara-saudara kandung Kristus), dan kaum Arian (yang percaya bahwa Yesus adalah suatu makhluk ciptaan dan bukan sama-sama abadi dengan Allah Bapa, dan yang untuk jangka waktu yang panjang mengalahkan jumlah kaum non-Arian di dalam lingkungan gereja yang institusional). Memang dapat diperdebatkan apakah kelompok-kelompok ini adalah ajaran sesat (doktrin baru yang berlawanan dengan doktrin-doktrin yang asli dan benar), atau apakah keyakinan-keyakinan tersebut hanya sekadar tidak dirumuskan oleh komunitas Kristen yang lebih besar hingga saat itu. Namun perpecahan terbesar dalam agama Kristen di masa kini adalah antara Gereja-gereja Ortodoks Timur, Katolik Roma, dan berbagai denominasi yang terbentuk pada masa dan sesudah Reformasi Protestan. Di kalangan Gereja Protestan juga terdapat berbagai kesatuan dan perbedaan dalam tingkat yang berbeda-beda.

Perbandingan antara kelompok-kelompok denominasional harus dihampiri dengan hati-hati. Misalnya, dalam sejumlah kelompok, jemaat adalah bagian dari satu organisasi gereja yang monolitik, sementara dalam kelompok-kelompok lainnya, masing-masing jemaat adalah sebuah organisasi yang mandiri dan otonom. Perbandingan dengan angka juga dapat menjadi masalah. Sejumlah kelompok menghitung keanggotaannya berdasarkan jumlah orang percaya yang dewasa dan anak-anak orang percaya yang dibaptiskan, sementara yang lainnya hanya menghitung orang percaya dewasa yang sudah dibaptiskan. Selain itu, barangkali ada motif-motif politik dari para penganjur atau lawan dari suatu kelompok tertentu untuk menggelembungkan atau menggemboskan jumlah keanggotaan melalui propaganda atau pengelabuan.