Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH
Blog EntryAug 3, '06 9:56 PM
for everyone
Tulisan ini dibuat oleh Bapak Sarwono di blog-nya.

TINJAUAN kesejarahan tentang Partai Golkar tidak dapat dilepaskan dari kenyataan bahwa sejak didirikannya Badan Kerjasama Sipil-Militer pada tahun 1950-an, telah tumbuh dan berkembang jaringan keluarga besar golongan karya dalam jangka waktu puluhan tahun, suatu komunitas yang cukup besar dan riel, dan yang luput dari pengamatan para pemerhati politik. Dan, bahkan akhir-akhir ini seiring dengan gejolak politik pasca 1998 kelihatannya, luput pula dari perhatian para tokoh Partai Golkar sendiri.

Badan Kerjasama Sipil-Militer ketika pertama kali didirikan oleh TNI mungkin saja tidak mempunyai pretensi jangka panjang, kecuali sebagai upaya menggalang dukungan masyarakat menghadapi gerakan separatis bersenjata. Hal lain yang melatarbelakangi berdirinya badan tersebut mungkin perlu diteliti. Tetapi faktanya kemudian, seiring dengan ketidakpuasan militer dengan instabilitas rezim demokrasi liberal ketika itu, tumbuh berbagai organisasi kemasyarakatan yang dipimpin oleh tokoh-tokoh TNI yang kemudian berhubungan dengan komponen-komponen masyarakat lainnya yang sama-sama tidak puas dengan performa partai politik pada waktu itu. Bukan saja karena instabilitas rezim yang disebut dimuka, maupun karena kompetisi ideologis yang kian menajam, tetapi juga karena kemunduran ekonomi yang terjadi.

****

KERESAHAN masyarakat yang meluas di atas dimanfaatkan secara jeli oleh Presiden Sukarno, yang melalui Dekrit Presiden 5 Juli 1959 menyatakan kembalinya diberlakukan UUD 45 dengan alasan kegentingan memaksa (staatsnoods recht), dekrit mana didukung oleh TNI dengan organisasi-organisasi afiliasinya serta oleh partai-partai politik terkemuka, kecuali oleh Masyumi dan PSI yang kemudian dibubarkan.

Selanjutnya rezim Demokrasi Terpimpin Bung Karno mempunyai ciri yang sama dengan ciri politik negara-negara baru merdeka pada umumnya, yang tergabung dalam poros bebas aktif (non-aligned nations) dan dipimpin oleh negarawan “generasi Bandung”, yaitu tokoh-tokoh konferensi Asia Afrika 1955. Mereka menolak demokrasi liberal karena merupakan sistem dari negara penjajah.

Rupanya pada tahun 1950-an Indonesia menempuh jalan demokrasi liberal karena ingin menepis kesan bahwa kemerdekaan Indonesia diilhami dan bahkan dibidani oleh fasisme Jepang. Di luar beberapa negara-negara bekas jajahan Inggris tertentu, negara-negara baru biasanya merumuskan identitas politiknya dengan menciptakan ideologi yang khas serta sistem politik tersendiri. Dalam hal Indonesia, disebut Sukarnoisme dengan demokrasi terpimpinnya. Terjadi kemudian kompetisi ideologis untuk mengklaim Sukarnoisme antara berbagai faham politik aliran. Militer pun terlibat dalam persaingan itu mewakili “golongan tengah”. Sekretariat Bersama (Sekber) Golkar lahir pada tahun 1964 sebagai upaya konsolidasi golongan tengah, yaitu kalangan sipil non partai yang dipimpin tentara. Jika pada akhirnya kompetisi itu mengkristal antara ideologi kiri dengan “golongan tengah”, maka hal itu pun adalah tipikal untuk negara-negara Asia dan Afrika pada waktu itu.

Pilihan mereka hanya tiga, dipimpin diktator sipil yang didukung militer, dipimpin oleh diktator militer yang didukung konstituen sipilnya, atau dipimpin oleh rezim komunis. Dengan demikian secara natural, ketika posisi Bung Karno melemah karena kemunduran ekonomi yang luar biasa dan karena beliau sakit, maka konflik yang terjadi pun akhirnya adalah antara TNI dengan PKI.

Awal era pasca Sukarno ditentukan coraknya oleh militer yang secara efektif berkuasa. Konsisten dengan corak “jalan tengah”, mereka memilih tidak berkuasa langsung mendirikan rezim militer— walaupun hal itu didorong keras oleh kalangan sipil non partai— tetapi memilih opsi lunak, yaitu apa yang disebut sebagai “partnership militer-sipil” yang mengingatkan kita pada format Badan Kerjasama Sipil-Militer tahun 1950-an.

Setelah “dibersihkan” dari pendukung Sukarno dan “dimurnikan” dari organisasi-organisasi yang berafiliasi partai politik, maka Sekber Golkar yang dipimpin perwira-perwira tentara aktif dibawah kendali Asbinsospol Mabes ABRI kemudian memenangkan Pemilu 1971 sebagai “partner” militer.

Kemenangan Sekber Golkar ketika itu dan kemenangan Golkar sesudahnya tentunya tidak bisa dilepaskan dari fakta bahwa militer merupakan penguasa efektif pada waktu itu. Tetapi perlu diingat pula dua faktor tambahan bahwa rentang waktu antara tahu 1966 dan 1971 merupakan periode rehabilitasi ekonomi yang sudah ditunggu rakyat sejak tahun 1950, selain bahwa partai politik dipersepsikan bertanggung jawab atas instabilitas politik dan kemunduran ekonomi. Oleh karena itu pula program politik rezim Orde Baru yaitu pembaruan struktur politik berupa fusi partai dan penetapan Pancasila sebagai satu-satunya asas berjalan relatif mulus dalam situasi perbaikan ekonomi berkelanjutan yang merupakan ciri sukses Orde Baru sampai tahun 1997. Maka kritik bahwa rezim Orde Baru sepenuhnya ditopang oleh kekerasan militer tidaklah betul.

****

SELAMA Orde Baru terjadi juga evolusi dalam tubuh keluarga besar golongan karya Sekber Golkar dikonsolidasi menjadi Golkar menurut keputusan Munas 1978 dan selanjutnya menjadi Golkar yang berstelsel aktif, individual dan sukarela pada tahun 1983.

Golkar pun menyatakan diri sebagai organisasi kader dan kaderisasi Golkar yang tadinya merupakan program sampingan, sejak tahun 1983 menjadi program utama. Organisasi-organisasi yang mendirikan Sekber Golkar maupun yang didirikan Golkar, dinyatakan sebagai organisasi yang lepas dari ikatan struktural namun masih terhubungkan dengan ikatan historis. Dengan demikian embrio yang tercipta dalam pola BKS Sipil-Militer, kemudian lahir sebagai kekuatan politik dalam diri Sekber Golkar lantas menjelma menjadi jaringan keluarga besar golongan karya dengan Golkar sebagai sayap politiknya.

Pada periode 1983-1988, kaderisasi berskala besar yang dilakukan Golkar merupakan juga puncak perekrutan bagi generasi muda sipil non birokrasi dari organisasi-organisasi kemasyarakatan pemuda.

Keluarga besar golongan karya sebagai jaringan konstituen, dibina sejak awal Orde Baru melalui suatu pengaturan informal yaitu jalur A untuk lingkungan militer, jalur B untuk lingkungan birokrasi dan jalur G untuk lingkungan sipil di luar birokrasi. Pemuka ketiga jalur terebut melakukan fungsi pengendalian terhadap Golkar lewat Dewan Pembina yang mempunyai peran strategis. Komposisi kepengurusan Golkar disusun sesuai kehendak Dewan Pembina untuk “menjadikan Golkar makin mandiri, makin dewasa, dan makin berakar”, yang berarti keterlibatan langsung pengendali tiga jalur di Dewan Pembina berangsur dikurangi seiring dengan penguatan peran Golkar sebagai organisasi politik.

Dalam salah satu pengarahannya pada tahun 1987, Ketua Dewan Pembina Soeharto mengatakan bahwa Golkar perlu “bersiap untuk kompetisi dalam era multipartai pada era pasca Soeharto”, hal mana terjadi sekarang ini, walaupun situasinya berbeda dengan apa yang beliau bayangkan pada waktu itu. Beliau juga mengatakan dalam berbagai kesempatan bahwa “jalur G harus didorong ke depan untuk memimpin Golkar sepenuhnya, karena tentara dan birokrasi perlu kembali hanya melakukan tugas pokok mereka” (back to basics).

Motor proses pensipilan Golkar adalah kaum muda yang direkrut melalui kaderisasi tersebut di atas dan merekalah yang kemudian tampil sebagai para pemimpin partai Golkar dewasa ini.

Pada dasarnya apa yang diarahkan secara visioner oleh Pak Harto terjadi sekarang. Militer telah menjauh dari politik demikian juga birokrasi. Partai Golkar telah mampu mengatasi kompetisi dalam sistem multipartai karena dikelola oleh mereka yang terbiasa dengan demokrasi intern di organisasi asal mereka dan telah menempuh kaderisasi.

Walaupun sudah tidak lagi dikendalikan oleh jalur A dan B, unsur-unsur keluarga besar golongan karya masih mampu memunculkan partai Golkar sebagai peraih suara terbanyak di tengah situasi yang tidak kondusif. Lagi pula, unsur-unsur itu pula yang aktif dalam partai-partai lain, mempunyai saham dalam menggerakkan kehidupan partai-partai tadi yang lahir sesudah reformasi.

Dengan demikian ada beberapa pelajaran sejarah yang dapat dipetik.

Pertama bahwa dinamika politik negara berkembang merupakan tarik menarik antara trend umum yang dianjurkan kekuatan global yang dominan dan trend khas yang didorong oleh kepemimpinan nasional.

Kedua bahwa akhirnya kompetisi ideologis global dimenangkan oleh faham demokrasi liberal sejak runtuhnya komunisme, dan sejak gagalnya rezim-rezim militer di mana negara tidak lagi mempunyai ideologi khas. Yang terjadi adalah persaingan ideologi dalam sistem multipartai. Sistem politik negara-negara berkembang akhirnya mengikuti dominasi demokrasi liberal apakah yang menganut sistem parlementer atau presidensial.

Ketiga bahwa kelangsungan hidup dari suatu komunitas politik dalam alam demokrasi tidak ditentukan oleh partai, sebaliknya nasib partai ditentukan oleh komunitas politiknya, yang bisa saja mempunyai pilihan sesaat yang berbeda di antara komunitas itu.

Keempat bahwa dalam sejarah Indonesia sebagai masyarakat majemuk sikap-sikap politik moderat dan inklusif atau sikap politik tengah adalah arus yang dominan, yang dewasa ini tidak selalu disalurkan lewat satu partai, tetapi oleh beberapa partai yang didukung komunitas politik yang sama. Dengan kata lain, dukungan jaringan keluarga besar golongan karya dewasa ini terbagi kedalam berbagai partai “tengah”. Dengan demikian yang permanensinya terjamin adalah jaringan keluarga besar golongan karya yang mempunyai sejarah panjang bahkan mendahului lahirnya Golkar. Mereka adalah orang-orang berpandangan moderat, inklusif dan biasa bergabung dalam organisasi profesi maupun fungsional.

Mereka berwawasan kebangsaan, mempunyai sejarah kedekatan dengan militer dalam keadaan tertentu namun juga sanggup berdemokrasi. Mereka bukanlah orang-orang yang secara sadar diorganisasikan seperti pada jaman Orde Baru, namun sejarah mereka yang panjang telah menjadikan mereka kelompok yang digerakkan oleh persepsi, bukan oleh hirarki, dan persepsi ini kemudian disebarluaskan melalui berbagai forum yang bentuknya belum tentu bisa dikenali. Mereka bukanlah penganut politik aliran seperti yang kita kenal dari analisis Geertz.

****

OLEH karena itu yang menjadi soal adalah posisi dan eksistensi Partai Golkar, bukan eksistensi dari jaringan. Distorsi kekuasaan pada penghujung Orde Baru, disintegrasi dalam tubuh Golkar dan kekacauan komunikasi yang terjadi dalam Era Reformasi menyebabkan representasi politik Partai Golkar tidaklah sebesar potensi jaringannya.

Upaya Partai Golkar untuk membesarkan kembali posisinya dalam percaturan politik Indonesia harus dilihat sebagai upaya untuk bersaing dengan partai lain, menarik dukungan dari jaringan keluarga besar golongan karya yang merupakan fenomena politik non aliran yang populasinya besar.

Dalam hal ini ada beberapa rekomendasi yang bisa dikemukakan.

Pertama, sesuai dengan sifat dari sistem multipartai, akhirnya partai harus memenangkan nilai dan produk yang konsisten dengan nilai. Oleh karena itu identifikasi nilai apa yang digandrungi masyarakat dan produk politik apa yang harus kemudian dirumuskan, dikemas dan ditawarkan secara tepat. Kita sekarang berada dalam situasi yang berlainan karena pemikiran politik yang berlaku sudah tidak lagi dipolakan oleh pimpinan nasional, tetapi ditentukan oleh aspirasi konstituen. Oleh karena itu perumusan ideologi partai harus dilakukan secara kontekstual, yang berarti perumusan Pancasila sebagai ideologi yang hidup dan doktrin karya kekaryaan juga sebagai doktrin yang hidup. Revitalisasi dan reaktualisasi ideologis perlu dilakukan karena walaupun jaringan keluarga besar golongan karya merupakan basis yang cukup besar, namun jaringan itu memerlukan regenerasi dan juga tidak dapat eksis ke depan hanya dengan berbekal sejarah.

Kedua, masyarakat sekarang berada dalam era kebebasan berserikat dan mempunyai banyak pilihan untuk berafiliasi. Dari sudut politik, dorongan untuk menjadi anggota partai menjadi melemah sehingga kaderisasi partai perlu didesain untuk menjaring orang-orang tertentu saja yang mempunyai talenta sebagai “orang pergerakan” yaitu mereka yang menjadikan politik sebagai panggilan hidup.

Ketiga, orang pergerakan, atau kader adalah mereka yang bertugas berkomunikasi dengan jaringan keluarga besar golongan karya, dan perlu memasarkan produk-produk partai ke tengah masyarakat sepanjang tahun dan tanpa henti dengan pendekatan pemasaran dan pelayanan. Untuk itu perlu pemetaan secara cermat jenis-jenis kelembagaan kegiatan para kader, baik dalam organisasi partai maupun dalam kelembagaan di luar partai serta kelompok sasaran yang dibidik, serta pengembangan kapasitas kader.

Keempat, perlu dibedakan jabatan kepartaian dan jabatan publik yang sekarang ini cenderung dicampuradukan. Partai memerlukan penanganan penuh waktu untuk memenangkan pemilu dengan mengandalkan loyalitas jaringan dan perluasan jaringan. Jabatan publik hendaknya dipercayakan kepada anggota partai yang tidak punya tugas kepartaian, atau dipercayakan kepada orang di luar partai, namun yang punya kredibilitas dan kemampuan dan kesamaan ideologi. Pembedaan jabatan partai dan jabatan publik menjadi lebih penting lagi karena sistem multipartai sekarang dicirikan pula oleh pemilihan langsung dalam jabatan-jabatan publik di pusat maupun daerah. Pencampuradukan jabatan publik dengan jabatan partai akan memunculkan orang-orang kuat partai untuk bersaing dalam medan politik yang cair dan terbuka sehingga risiko tersingkir menjadi besar.

Singkat kata, perjalanan sejarah bangsa telah melahirkan komunitas politik non aliran yang erat hubungannya dengan sejarah perkembangan Golkar, yaitu jaringan keluarga besar golongan karya. Eksistensi politik jaringan ini sudah menjadi gejala permanen dan mereka mempunyai pilihan politik yang beragam sesuai karakter rezim multipartai.

Partai Golkar eksistensinya tergantung dari kemampuannya melayani aspirasi dan kepentingan jaringan tersebut, serta mendorong regenerasi jaringan. Oleh karena itu perkembangan partai Golkar ke depan ditentukan oleh paradigma yang berlainan dari paradigma yang lalu.

*)Sarwono Kusumaatmadja menjabat sebagai Sekretaris Jenderal DPP Golkar 1983-1988




akbaramaru wrote on Aug 4, '06
Aduuh...mati gue panjang banget, pake bahasa pejabat lagi. Kesimpulannya apa co?
incoharper wrote on Aug 4, '06
Golkar sudah berubah... ^_^
akbaramaru wrote on Aug 4, '06
Well, Golkar berhak mengatakan sudah berubah, rakyat juga berhak melihat hasilnya.
Sukses buat partai lo co...
incoharper wrote on Aug 4, '06
Buat gw, lebih baik stay di Gokar dan memperbaiki apa yang sudah rusak daripada dulu ikut ngerusakin Golkar trus sekarang bikin partai baru... hehehe
Add a Comment